Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Keju Aman untuk Kue Lebaran

Sabtu, 18 Agustus 2012, 16:00 WIB
Komentar : 2
Blogspot.com
Keju (ilustrasi)
Keju (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,Siapa yang tak kenal keju? Makanan berbahan dasar susu sapi ini selain enak disantap, juga bergizi tinggi. Produk olahan keju bisa bermacammacam. Keju biasa digunakan untuk campuran menu makanan atau juga dipakai sebagai pelengkap kue basah ataupun ringan. Menjelang Lebaran, ada banyak variasi kue kering yang menggunakan keju ke dalam unsur kue.

Tetapi, tahukah Anda bahwa jenis panganan ini juga memiliki titik kritis kehalalan. Menurut dosen ilmu dan teknologi pangan IPB Dr Ir Anton Apriyantono, dalam esainya berjudul “Titik Kritis Kehalalan Keju dan Hasil Sampingnya”, titik kritis keju tersebut ada pada tahap koagulasi atau penggumpalan susu. Karena, untuk meng gumpalkan susu diperlukan bahan-bahan yang bisa membuat keju menjadi tidak halal.

Ia pun menguraikan terlebih dahulu beberapa tahapan pembuatan keju, yaitu: pertama, persiapan susu, kedua, koagulasi atau penggumpalan susu dengan menggunakan enzim atau asam yang akan menghasilkan curd (bagian susu yang terkoagulasi atau tergumpalkan) dan whey (bagian susu dalam bentuk cairan setelah curd terbentuk dan dipisahkan). Se dangkan, proses ketiga, yaitu pemisahan whey untuk mendapatkan curd, keempat, pengolahan curd. Dan, kelima ialah pematangan keju.

Selain itu, ada tiga metode koagulasi susu. Salah satunya metode menggunakan enzim (enzim adalah suatu protein yang mempunyai kemampuan mempercepat reaksi biologis) yang mampu menggumpalkan susu (disebut juga sebagai koagulan). Pola ini banyak digunakan. Koagulan yang pertama-tama digunakan adalah yang berasal dari perut sapi muda (anak sapi) yang disebut dengan rennet. Pada saat ini, rennet diperoleh bukan hanya dari perut sapi muda, tetapi juga perut sapi dewasa, anak kambing, kambing dewasa, domba, dan babi.

Dari segi kehalalan, penggunaan koagulan yang berasal dari hewan jelas rawan menghasilkan keju yang tidak halal karena di samping bisa berasal dari babi, juga bisa berasal dari sapi atau kambing yang tidak disembelih secara Islami (sebagian besar koagulan diproduksi oleh negara maju non- Muslim).

Hal ini, lanjutnya, koagulan dari hewan ini, selain bisa tidak halal, juga bercampur dengan keju yang dihasilkan. Oleh karena itu, yang relatif aman adalah jika koagulannya berasal dari tumbuh-tumbuhan, mikroorganisme atau hasil fermentasi GMO, yakni saat fermentasinya digunakan media (tempat pertumbuhan dan sumber makanan mikro organisma) yang halal.

Ia menambahkan, di pasaran, khususnya di luar negeri, keju yang dibuat dengan menggunakan koagulan yang berasal dari mikro organisme (dalam bahasa Inggris disebut microbial rennet) dapat dikenali dengan membaca informasi di kemasan keju tersebut Menurutnya, di daftar ingredien akan disebutkan microbial rennet. Informasi ini diperlukan bagi mereka yang menghindari koagulan yang berasal dari hewan, yaitu kalangan vegetarian dan Muslim. Ia lantas menyarankan agar para konsumen jeli dalam memilih keju.

Ini bisa dilakukan dengan mem perhatikan keberadaan sertifikat ha lal dari lembaga otoritatif di ke masan keju yang hendak dibeli. Jika kecermatan dan kejelian itu dilakukan, kue Lebaran pun akan semakin lezat berkat campuran keju. Tanpa ada keraguan soal status kehalalannya.

Reporter : naslih nasrullah
Redaktur : M Irwan Ariefyanto
Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah(HR. Tirmidzi)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar