Kamis, 2 Zulqaidah 1435 / 28 Agustus 2014
find us on : 
  Login |  Register

Banyak Orang tak Sadar Terkena Hepatitis, Mengapa?

Jumat, 20 Juli 2012, 21:05 WIB
Komentar : 1
fr.gavialliance.org
Pentavalent vaccine is a combination of five different vaccines, namely diphtheria, pertussis, tetanus, hepatitis B and Haemophilus influenzae of type B. (Illustration)
Pentavalent vaccine is a combination of five different vaccines, namely diphtheria, pertussis, tetanus, hepatitis B and Haemophilus influenzae of type B. (Illustration)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Banyak orang tidak menyadari telah menderita penyakit Hepatits B atau Hepatitis C karena penyakit tersebut tidak menunjukkan gejala yang spesifik di tahap awal, kata Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Rino A Gani.

"Gejalanya baru muncul setelah penyakit itu parah atau lebih dari 10 tahun kemudian," katanya di Jakarta, Jumat. Lebih lanjut Rino mengatakan bahwa kebanyakan orang tidak tahu karena gejalanya tidak ada, "Kalaupun ada, tidak spesifik. Gejala yang muncul seperti mual, lemas, capek tidak bisa langsung dikorelasikan dengan hepatitis".

Rino membandingkannya dengan gejala penyakit lainnya seperti jantung yang biasanya merasa nyeri di dada kiri sehingga dapat langsung ditangani namun hepatitis B dan C tidak menimbulkan gejala hingga parah yang membutuhkan waktu hingga 40 tahun.

"Penyakit ini membutuhkan waktu lama untuk jadi parah, sekitar 30-40 tahun. Sirosis hati minimal butuh 20-30 tahun, kanker hati berkembang 20-30 tahun," papar Rino.

Indonesia termasuk negara dengan prevalensi Hepatitis B dengan tingkat endemisitas tinggi yakni lebih dari 8 persen. Penderita Hepatitis B dan C di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang dengan 50 persen di antaranya menjadi penyakit hati kronik dan 10 persen lainnya menjadi kanker hati.

Sementara di dunia, sebanyak 2 miliar penduduk pernah terinfeksi Hepatitis B dan diperkirakan 240 juta di antaranya menderita Hepatitis B kronik dan sekitar 170 juta menderita Hepatitis C kronik.

"Sekitar 1,5 juta orang meninggal pertahunnya akibat Hepatitis B dan C," kata Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemkes Mohammad Subuh.

Kementerian Kesehatan mengklaim telah melakukan penanggulangan Hepatitis dengan tindak pencegahan yaitu pencegahan primer dengan melakukan promosi dan imunisasi, pencegahan sekunder dengan penapisan (screening) dan pencegahan tersier dengan mencegah keparahan dan rehabilitasi penderita.

Penapisan saat ini adalah cara yang paling efektif untuk mengetahui seseorang terjangkit hepatitis atau tidak namun faktor biaya kerap menjadi alasan seseorang terutama yang tidak mampu untuk tidak melakukannya.

Subuh memaparkan tes cepat Hepatitis B dan C membutuhkan biaya Rp 30-50 ribu per tes dan tes lanjutan membutuhkan biaya sekitar Rp 100-150 ribu.

"Tapi ini baru `screening` awal, jika ditemukan positif, harus menjalani tes-tes konfirmasi lainnya sebelum ditetapkan sebagai orang yang harus menjalani perawatan," kata Subuh.

Oleh karena masih tingginya biaya yang dibutuhkan itu, maka tidak heran jika penyakit jumlah penderita penyakit Hepatitis B dan C masih berupa "fenomena gunung es" di Indonesia.

"Diperkirakan hanya 10-20 persen saja yang terdeteksi, karena ini juga tidak menimbulkan gejala sampai kerusakan hati sudah jauh," kata Subuh.

Tiap tanggal 28 Juli diperingati sebagai Hari Hepatitis Dunia yang merupakan hari lahir dari Dr. Baruch S Blumberg, penerima Hadiah Nobel karena menemukan virus dan vaksin Hepatitis B.

Untuk tahun 2012, peringatan Hari Hepatitis Dunia mengambil tema "It`s Closer than You Think" yang di Indonesia diterjemahkan menjadi "Masalah Hepatitis Sudah di depan Mata" yang menunjukkan betapa penyakit tersebut membutuhkan penanganan yang lebih serius dari yang ada saat ini.

Redaktur : Taufik Rachman
Sumber : antara
Malu adalah bagian dari iman.(HR. Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar