Meski Serupa, Alquran Tak Sama Dengan Teks Agama Lain

Sabtu, 18 September 2010, 06:55 WIB
Heri Purwata/Republika
Meski Serupa, Alquran Tak Sama Dengan Teks Agama Lain
Salah satu bentuk Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Jika, para orientalis abad ke-19 memahami Alquran sebagai kumpulan imitasi/tiruan dari teks-teks pra-Islam, Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig kebalikannya. Mereka memosisikan Alquran dalam penelitian seobjektif mungkin. Kesimpulannya Alquran bukanlah `teks epigonik', yang merupakan hasil imitasi beberapa teks lain dari tradisi praIslam.

Alquran, ditegaskan mereka, walaupun dalam beberapa kasus memiliki paralelitas dan kemiripan dengan teks-teks lain, namun 'independensinya' tetap terjaga. Hal itu terlihat dari karakteristik dari Alquran dan dinamikanya, baik dari segi bahasa maupun isi.

Neuwirth pun membandingkan salah satu surat di Alquran yakni al-Rahman dengan di kitab Zabur. Menurut dia, walaupun kedua teks tersebut memiliki paralelitas/interseksi, namun tetap Alquran memiliki gaya sendiri dalam struktur sastra dan spirit, bahkan lebih spesifik dalam hal isi dan pesan (Neuwirth 2008:157-189).

Pemikiran yang tidak jauh berbeda juga diperlihatkan Nicolai Sinai ketika meneliti QS. An-Najm. Dirk Hartwig, ketika diwawancarai tanggal 2 Juli, tak bisa menahan kritikkannya terhadap Christoph Luxemberg yang mengatakan bahwa Alquran adalah salinan teks dari tradisi Kristen yang berbahasa Syro-Aramaik.

Dan, penyangga terakhir, mereka telah dan sedang memproduksi apa yang mereka sebut sebagai 'der historischkritische literaturwissenschaftliche Kommentar des Quran' (interpretasi historis-kritis dan sastrawi terhadap Alquran). Konstruksi atas interpretasi ini dibangun melalui empat pondasi.

Teks Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Jerman, adalah pondasi pertama. Teks Arab didasarkan pada qiara'at Hafsh dari `Asim. Terjemahan Alquran sebagian besar berasal dari terjemahan Rudi Paret dengan beberapa penyesuaian tertentu. Pondasi kedua adalah studi tentang urutan kronologis wahyu.

Dalam posisi ini, mereka ingin merekonstruksi dinamika teks Alquran sehubungan dengan aspek linguistik/sastranya. Juga, apa yang mereka sebut "kritik sastra" dalam arti mereka memberikan penjelasan struktur sastra Alquran dalam menyampaikan pesan tertentu.

Redaktur: Djibril Muhammad
Dari Siti ‘Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Allah Ta'ala berfirman: Sesungguhnya Aku telah berjanji dengan Dzat-Ku terhadap hamba-Ku, bahwa apabila dia menunaikan shalat tepat pada waktunya, niscaya Aku tidak akan menyiksanya, dan bahwa Aku akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab lagi." ( HR. Hakim)
St Lucifer, Kamis, 30 Desember 2010, 09:03

Allah akan senantiasa menjaga al-qur'an yg diturunkan dlm bahasa yg memang dimengerti oleh rasul yg menerimanya, tak seperti bibel yg aslinya dlm bahasa latin yg mana sedikitpun tak dimengerti oleh Yesus yg cuma mengerti bahasa ibrani & aramaik

Balas
muallave, Kamis, 25 November 2010, 20:15

betul sobat

Balas
erna, Minggu, 17 Oktober 2010, 13:44

Komentar2 anda menunjukkan "kelas & level" anda. Dari komentar2 dan gaya bahasa anda terlihat tingkat pendidikan, pengetahuan dan tata krama anda. Tulislah komentar yg menyejukkan, menginspirasi & menambah pengetahuan setiap orang yang membaca komentar anda. Salam damai dan santun...

Balas
iyus, Kamis, 14 Oktober 2010, 20:11

ROEN @ sodaraku ron..kalo anda ingin tahu bukti ilmiah..anda harus rajin baca2 artikel dan statmen para ilmuan tntang keberan al qur'an.. silahkan.. baru setelah itu ajukan lagi pertanyaan kitab mana yg palsu dan kotor ?

Balas
neilhoja, Senin, 11 Oktober 2010, 02:19

bung daktur, boleh tahu dong... itu buku atau jurnal? dan kalau boleh tahu, apa judulnya dalam bahasa Inggris?

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...