Ketika 'Suku Arya' Memahami Alquran

Sabtu, 18 September 2010, 06:36 WIB
muslimdaily.net
Ketika 'Suku Arya' Memahami Alquran
Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sebagai sebuah teks, Alquran dapat dipahami dari sejarah bermulanya teks itu dibentuk dan difungsikan. Salah satu kajian yang mendalami konsep tersebut adalah kritis historister. Dari kajian itu, serta dengan dorongan pengetahuan rasional, dapat ditelusuri teks Alquran dan sejarahnya.

Konsep seperti itulah yang mendominasi model penelitian para sarjana Barat sejak abad ke-19. Abraham Geiger (1810-1874), misalnya dianggap sebagai sarjana pertama yang menerapkan pendekatan kritik-historis terhadap Alquran. Bahkan, pada 1883, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul 'Was hat Mohammed aus dem Judentum aufgenommen?' (Dirk Hatwig 2009:241).

Dalam bukunya itu, ia memaparkan bahwa Nabi Muhammad, dalam memproduksi Alquran, banyak menyisipkan tradisi-tradisi Yahudi. Sontak, pemikiran ini pun beranak pinak seperti yang dikembangkan Günther Luling dan Christoph Luxemberg. Buku 'Der Koran und sein religiöses und kulturelles Umfeld' (2010) editan Tilman Nagel, dianggap sebagai karya terbaru yang menghimpun beberapa hasil kajian historiskritis ala Geiger.

Alquran, dipahami mereka, sebagai sebuah teks `epigonik'. Dalam pengertian bahwa Alquran merupakan imitasi dari teks-teks pra-Islam. Pandangan itu pun melahirkan kontroversial di kalangan sarjana Muslim. Namun, tidak semua sarjana Barat yang berada dalam 'gerbong' pemikiran tersebut.

Sebut saja, Anglika Neuwirth, Nicolai Sinai, Michael Marx, dan Dirk Hartwig. Umumnya mereka memberikan perlawanan atas pemikiran tersebut, yang menolak bahwa Alquran hanyalah copy-paste atas `teks-teks praIslam'. Hal itu terlihat dari wawancara pada 2 Juli 2010 dan penelusuran beberapa artikel mereka. Salah satunya adalah proyek yang dikenal dengan Corpus Coranicum, yang sedang dilakukan di Berlin-Brandenburgische Akademie der Wissenschaften di Jerman.

Konsep Ala Geiger dengan para 'penentang' ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Paradigma lah yang membedakan kedua pemikiran tersebut. Dalam konsep 'para penentang', Alquran diposisikan sebagai `teks polifonik' dan bukan mimesis (tiruan) dari teks-teks sebelumnya, seperti yang didengungkan Geiger. (Bersambung)

Redaktur: Djibril Muhammad
Dari Zaid Ibnu Tsabit Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengganti pakaian untuk ihram, lalu mandi. Hadits hasan riwayat Tirmidzi.(HR Muslim)
Zjach Ravl, Minggu, 5 Pebruari 2012, 16:52

ISLAM menurut bahasa artinya SELAMAT. jadi ISLAM adalah agama pembawa KESELAMATAN baik di dunia maupun akhirat. AMIN

Balas
Muhammad Hafiezh, Sabtu, 9 Oktober 2010, 22:44

Musuh islam akan selalu menebarkan kebencian, sbg muslim yang baik kita harus pintar mensikapinya.

/////////////////
www.batikrehal.com

Balas
salah kaprah ini.., Selasa, 21 September 2010, 17:10

suku arya itu bukan jerman maupun barat

Balas
WEILSAMAD, Senin, 20 September 2010, 05:22

Penodaan Al-Quran oleh mereka yg jahil ttg Islam kerana tlh dikeliru oleh kitab2 mereka yg diubah ikut selera penulisnya. Kitab Zabur diwahyu kpd nabi Daud as, Taurat kpd nabi Musa as & Injil kpd nabi Isa as tlh ditulis oleh manusia dgn mengubah ikut selera. Al-Quran teks polifonik yg dijagai Allah & kekal keasliannya.

Balas
Gunadi Sukardjo, Sabtu, 18 September 2010, 17:15

pembakaran al Quran tidak akan menolong agama kristen dan pemikiran barat dimanapun, injil tak dapat tegak dengan mengobarkan kebencian. pemikiran Islam bertanggung jawab terhadap 9/11 juga atas dasar dugaan yang salah ...dasar pemikiran yang salah menghasilkan iman yang salah dan tindakan yang salah, (Islam damai)

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...