Selasa , 26 May 2009, 22:36 WIB

Teori Evolusi Ibnu Miskawaih

Red:
  Teori ilmu pengetahuan yang telah kita pelajari tentang kehidupan yang selalu berkembang adalah teori evolusi.  Teori itu menjelaskan bahwa dunia ini tidak bersifat statis, namun terus berubah.  Sejak dibangku sekolah menengah, kita  diperkenalkan dengan  Charles Darwin (1809 M-1882 M) yang diklaim peradaban Barat sebagai pencetus teori evolusi.

Sejatinya, peradaban Islam di era kekhalifahan telah mengenal teori evolusi. Sekitar sembilan abad sebelum Darwin mencetuskan teori itu, seorang Ilmuwan Muslim asal Persia bernama  Ibnu Miskawaih (932 M-1030 M) telah mengungkapkan teori evolusi itu. Menurut  Muhammad Hamidullah dan Afzal Iqbal dalam karyanya bertajuk The Emergence of Islam: Lectures on the Development of Islamic World-view, Intellectual Tradition and Polity, Ibnu Miskawayh merupakan orang pertama yang memaparkan  ide tentang evolusi secara jelas dan gamblang.

Menurut Hamidullah,  ide teori evolusi telah ditemukan dalam karya Ibnu Miskawah yang berjudul al-Fawz al-Asghar. Ibnu Miskawaih mengemukakan teori evolusi makhluk hidup yang secara mendasar sama dengan Ikhwan al-Shafa’. Teori itu terdiri atas empat tahapan, yakni  evolusi mineral, evolusi tumbuhan, evolusi hewan dan evolusi manusia.

Evolusi pertama adalah evolusi mineral, yakni bentuk kehidupan yang dihuni makhluk-makhluk rendah, misalnya batu, air, tanah. Dalam karya tersebut Ibnu Miskawaih mengungkapkan, "(Buku ini) menyatakan bahwa Allah merupakan yang pertama kali menciptakan zat dan diinvestasikan dengan energi untuk perkembangan. Zat diadopsi dari bentuk uap yang dianggap bentuk air karena waktu.''

Hamidullah menambahkan, dalam kitabnya itu, Ibnu Miskawaih juga menjelaskan tahapan selanjutnya dalam perkembangan adalah mineral kehidupan. Berbagai jenis batu dikembangkan oleh waktu. Bentuk tertinggi mereka berasal mirjan (karang/coral). Ini merupakan batu yang memiliki cabang di dalamnya seperti yang pohon. Setelah mineral kehidupan barulah perkembangan vegetasi dimulai.

Proses evolusi kedua yang dijelaskan Ibnu Miskawaih adalah evolusi tumbuhan,  yang pada awalnya hanya rerumputan spontan yang muncul, kemudian barulah muncul tanaman, lalu pepohonan tingkat tinggi. Di antara tumbuhan dan hewan terdapat satu bentuk kehidupan tertentu. yang tidak dapat digolongkan tumbuhan maupun hewan, namun memiliki ciri-ciri tumbuhan dan hewan, yaitu koral, dan euglena.

Selain itu, papat Hamidullah, Ibnu Miskawaih juga mengatakan evolusi tumbuhan mencapai puncaknya dengan pohon yang menghasilkan hewan-hewan yang berkualitas. Ini adalah palem kurma. Ini terbagi menjadi jantan dan betina. Pohon itu tak akan layu jika semua cabangnya dipotong, tapi tanaman ini mati ketika kepalanya dipotong.

Ibnu Miskawaih menganggap pohon palem kurma sebagai pohon tertinggi di antara pohon lainnya dan mirip dengan bintang terendah, kemudian lahirlah bintang terendah. Setelah itu, papar Ibnu Misawaih, tahapan berikutnya muncullah evolusi hewan, dimana dicirikan oleh adanya daya gerak dan indera peraba dan pada hewan yang lebih tinggi mulai adanya inteligensi. Hewan paling tinggi adalah kera.

"Teori evolusi bukanlah dicetuskan Darwin, tapi Ibnu Miskwaih seperti yang  ditulis di dalam  Ikhwan al-Safa,'' papar Hamidullah. Pemikir Muslim dari abad ke-10 nitu menyatakan bahwa monyet berkembang menjadi jenis terendah dari seorang Barbar. Dia kemudian menjadi manusia yang unggul. Manusia menjadi seorang suci dan seorang nabi.

Ibnu Miskawaih mengatakan, semua mahluk bearasal dari Allah SWT dan semua kembali kepada-Nya," papar Hamidullah dan Iqbal. Karena hal itulah, tutur Ibnu Miskawaih, kemunculan evolusi manusia ditandai oleh adanya inteligensi dan daya pemahaman.

Hamidullah dan Iqbal  menegaskan, manuskrip Arab al-Fawz al-Asghar yang ditulis Ibnu Miskawaih, telah tersedia di universitas-universitas  Eropa pada abad ke-19 M. Karya itu diyakini telah dipelajari Charles Darwin.

Sepanjang hidupnya, Ibnu Miskawaih meninggalkan banyak karya penting, misalnya kitab tahdzibul akhlaq (kesempurnaan akhlak), tartib as-sa’adah (tentang akhlak dan politik), al-siyar (tentang tingkah laku kehidupan), dan jawidan khirad (koleksi ungkapan bijak).


Keruntuhan Teori Evolusi

Teori evolusi yang dikembangkan Charles Darwin dinilai penuh dengan kekeliruan dan kebohongan. Adalah intelektual Muslim dari Turki, Harun Yahya yang menentang teori yang dikembangkan Darwin itu. Lewat karyanya bertajuk The Evolution Deceit (Keruntuhan Teori Evolusi), Harun Yahya mengungkapkan fakta-fakta kekeliruan pemikiran Darwin, yang  telah lama menjadi dasar bagi semua filsafat anti-Tuhan (Darwinisme).

"Darwinisme menolak fakta penciptaan, dan lebih jauh lagi, penciptaan Allah, dan selama 140 tahun terakhir filsafat ini telah membuat banyak orang meninggalkan kepercayaannya atau jatuh ke dalam keraguan. Oleh karena itu, sangat penting kiranya menunjukkan bahwa teori ini merupakan suatu kekeliruan dan penipuan, dan menyebarkannya kepada semua orang," tungkap Harun Yahya.

Harun menjelaskan bahwa teori evolusi bukan hanya sekedar konsep biologi, tapi juga memiliki pengaruh. "Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia," ujarnya menegaskan.

Filsafat tersebut, imbuh Harun, adalah materalisme, yang mengandung sejumlah pemikiran palsu tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul di muka bumi. Apakah merupakan produk dari evolusi atau diciptakan?

Materialisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Berawal dari pemikiran itu, Harun memaparkan bahwa materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta Allah SWT.

"Dengan mereduksi segala sesuatu ketingkat materi, teori ini mengubah manusia menjadi makhluk yang hanya berorientasi kepada materi dan berpaling dari nilai-nilai moral. Ini adalah awal dari bencana besar yang akan menimpa hidup manusia," ujarnya.

Menurut Harun, makhluk hidup muncul bukan akibat proses evolusi, melainkan muncul tiba-tiba dalam bentuk yang sempurna. Mereka diciptakan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, jelaslah bahwa "evolusi manusia" juga merupakan sebuah kisah yang tak pernah terjadi.

Para evolusionis menyusun skenario evolusi manusia dengan menyusun sejumlah tengkorak yang cocok dengan tujuan mereka, berurutan dari yang kecil hungga ynag terbesar, lalu menempatkan dinatara mereka tengkorak manusia yang telah punah.

Menurut skenario ini, manusia dan kera modern memiliki nenek moyang yang sama. Nenek moyang ini berevolusi sejalan dengan waktu. Sebagian dari mereka menjadi kera modern, sedangkan kelompok lain berevolusi melalui jalur yang berbeda, menjadi manusia masa kini.

"Akan tetapi, semua temuan paleontologi, anatomi dan biologi menunjukkan bahwa pernyataan evolusi ini fiktif dan tidak sahih seperti semua pernyataan evolusi lainnya. Tidak ada bukti-bukti kuat dan nyata untuk menunjukkan kekerabatan antara manusia dan kera. Yang ada hanya pemalsuan, penyimpangan, gambar-gambar serta komentar-komentar menyesatkan," jelas Harun.

Menurut Harun, catatan fosil mengisyaratkan kepada kita bahwa sepanjang sejarah, manusia tetap manusia, dan kera tetap kera. Sebagian fosil dinyatakan evolusionis sebagai nenek moyang manusia berasal dari ras manusia yang hidup hingga akhir-akhr ini sekitar 10 ribu tahun lalu dan kemudian menghilang.

Selain itu, banyak orang masa kini memiliki penampilan dan karakteristik fisik yang sama dengan ras-ras manusia yang punah, yang dinyatakan evolusionis sebagai nenek moyang manusia. "Semua ini adalah bukti bahwa manusia tidak pernah mengalami proses evolusi sepanjang sejarah," tuturnya.

Bukti terpenting lainnnya, kata Harun, adalah perbedaan anatomi yang besar antara kera dan manusia, dan tidak satupun di antara perbedaan tersebut muncul melalui proses evolusi.

Evolusionis Rusia, Alexander I Oparin dalam karyanya bertajuk "The Origin of Life" menyatakan teori evolusi Darwin tak bisa menjelaskan asal-usul sel. "Sayangnya, asal usul sel masih menjadi pertanyaan, yang merupakan titik tergelap dari teori evolusi yang utuh," paparnya.

Ketidakjelasan itu mengundang banyak evolusionis melakukan penelitian dan pengamatan untuk membuktikan bahwa sebuah sel dapat terbentuk secara kebetulan. Akan tetapi, setiap upaya hanya memperjelas desain sel yang kompleks sehingga semakin menggugurkan hipotesis mereka.

Profesor Kaluse Dose, kepala Institus Biokimia di Universitas Johanes Gutenberg menyatakan, "Percobaan tentang asal-usul kehidupan di bidang kimia dan evolusi molukuler selama lebih dari 30 tahun, menghasilkan persepsi yang lebih baik tentang kompleksitas asal usul kehidupan di bumi ini, dan bukannya memberikan jawaban yang mereka harapkan. Saat ini, semua diskusi mengenai teori-teori dasar dan penelitian di bidang ini berakhir dengan kebuntuan atau pengakuan atas ketidaktahuan."

Di sini jelas sudah bahwa evolusinis tidak mampu menjelaskan proses pembentukan sel. Baik hukum probabilitas, hukum fisika, mapun kimia tidak memberikan peluang sama sekali bagi pembentukan kehidupan secara kebetulan.

"Jika satu protein saja tidak dapat terbentuk secara kebetulan, apakah masuk akal jika jutaan protein menyatukan diri membentuk sel, lalu milyaran sel secara kebetulan pula menyatukan diri menjadi orga-organ hidup, lalu membentuk ikan, kemudian ikan beralih ke darat menjadi reptil, dan akhirnya menjadi burung? Begitukah cara jutaan spesies di bumi ini terbentuk," kata Harun. she/des/taq
TAG

Berita Terkait