Jumat, 25 Jumadil Akhir 1435 / 25 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Menaklukkan Hawa Nafsu

Rabu, 20 Oktober 2010, 21:00 WIB
Komentar : 0
Ilustrasi
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Dikisahkan, sekembalinya dari sebuah pertempuran, Rasulullah SAW berkata, "Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar (al-jihad al-akbar)." Sambil terperangah, para sahabat bertanya, "Apakah gerangan perang terbesar itu wahai Rasulullah?"  Nabi menjawab, ''Mujahadat al-Nafs" (perang menaklukkan diri sendiri). (HR Baihaqi dari Jabir).

Meskipun dipandang lemah oleh al-Albani dalam Silsilat al-Dha`if wa al-Maudhu`ah, hadis ini sesungguhnya dapat dipandang sahih ditilik dari segi maknanya (shahih fi al-ma`na). Ada beberapa hadis lain yang semakna dan derajat kualitasnya lebih tinggi. Di antaranya hadis yang menyatakan, "Petarung sejati (mujahid) adalah orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Orang yang hijrah adalah orang yang mampu meninggalkan keburukan.'' (HR Ahmad dan Baihaqi dari Fadhalah ibn `Ubaid).

Untuk keluar sebagai pemenang dalam perang terbesar ini, kita perlu mengetahui dan melakukan beberapa hal. Pertama, mengenali musuh utama kita sendiri, yaitu hawa nafsu. Dalam Alquran, kata hawa bermakna keinginan atau kecenderungan kepada sesuaatu yang buruk atau sesuatu yang melawan kebenaran dan kebaikan.

Disebut hawa, menurut pakar bahasa al-Ishfahani, karena keinginan itu membikin manusia lalai (wahiyah) di dunia dan menjerumuskannya ke dalam neraka (hawiyah) di akhirat. "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun." (QS Qashash (28): 50).

Kedua, mengelola dan mengendalikan nafsu dengan menggunakan kekuatan dan kecerdasan akal. Menurut filosof Muslim Ibnu Masykawaih, akal bukan hanya alat berpikir, melainkan juga alat kontrol dan pengendali (tadbir) kecederungan-kecenderungan yang bersifat destruktif dalam diri. Jadi, akal harus kendalikan nafsu.

Ketiga, melawan dan menolak kecenderungan nafsu, yakni tidak menuruti dan mengikuti kemauannya. Kalau Anda ingin menemukan kebenaran, demikian disarankan oleh orang bijak, maka perhatikanlah keinginan dan kecenderungan Anda, lalu ambillah sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan itu. Itulah kebenaran dan itulah yang dinamakan "Mukhalafat al-Hawa".

Keempat, menaklukkan nafsu dan menguasai sepenuh-penuhnya. Menurut Ghazali, perang dan pertarungan melawan nafsu berlangsung setiap saat. Dalam pertarungan ini, kita bisa menang pada suatu waktu, tetapi kalah pada waktu yang lain. Begitulah seterusnya, menang dan kalah silih berganti.

Namun, bagi orang-orang tertentu, yang terpelajar dan terlatih, serta mendapat pertolongan dari Allah, mereka mampu menaklukkannya dan keluar sebagai pemenang. Mereka itulah yang dinamakan petarung sejati. Allah SWT menjanjikan kemuliaan dan surga kepada mereka. "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal-(nya)." (QS al-Nazi`at (79):40-41). Wallahu a`lam

Reporter : Dr A lyas Ismail MA
Redaktur : Budi Raharjo
Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap(HR Muslim )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  syawaril.nuris Rabu, 27 Oktober 2010, 17:06
Allah menciptakan hawa nafsu bagi manusia agar ada keinginan dlm diri manusia. Org yg tdk punya hawa nafsu tdk menginginkan nikmat Allah. Hawa nafsu yg benar jk menginginkan apa yg dijanjikan Allah pada hari berbangkit bkn dunia. Diantara km ada suka dunia dan ada suka akhirat. Org yg benar suka akhirat krn lebih baik.
  Rasa Sejati Rabu, 27 Oktober 2010, 00:27
Hawa nafsu bukan untuk ditaklukan tapi lebih tepat dikendalikan karena ia merupakan bagian dari "fitrah" manusia. Semakin manusia sering "mengingat" Allah dalam setiap gerak-geriknya hawa nafsu akan lebih terkendali
  soleh s Sabtu, 23 Oktober 2010, 21:58
tanyalah lebih banyak menang atau kalah melawan hawa nafsu ? mari bernumanajat kepada Allah agar kita menang
  syawaril.nuris Jumat, 22 Oktober 2010, 17:31
Menjadi rajanya hawa nafsu bagi manusia karena tdk yakin bahwa kebaikan itu milik Allah dan kebaikan itu hanya akan didapat apabila tunduk dan taat kepada Allah. Org yg yakin bahwa ketaatan kpd Allah akan mendatangkan rahmat Allah, maka tdk akan menjadikan hawa nafsu sbg tuhannya.
  akal dan hati4 Jumat, 22 Oktober 2010, 05:14
Anda ingin tahu untuk menetralkan hawa nafsu disetiap manusia? Yaitu "Memanusiakan manusia"(humanity of human).

  VIDEO TERBARU
Jumlah Pengunjung Meningkat, Ancol Terus Berbenah
JAKARTA -- Sebagian besar warga Jakarta kebanyakan habiskan libur panjang keluar kota. Meski begitu, wisata pantai Ibu Kota tak kehilangan pesonannya. Seperti pantai di...