
Oleh Muhammad Arifin Ilham
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupi (kebutuhanmu).…" (QS At-Thalaq [65]: 3).
Jika sebuah kejadian atau peristiwa menimpa kita, maka tawakal bisa menjadi alat atau washilah untuk mengubah kejadian tersebut agar sesuai dengan harapan kita. Dalam bahasa lain, tawakal pun bisa mengantarkan kita ke sebuah ranah takdir penuh kebaikan.
Persoalannya, tawakal seperti apa yang bisa mengubah takdir kita? Sebab, tak sedikit mereka yang salah persepsi tentang pemahaman tawakal ini. Sebagian memahaminya dengan keliru, bahwa tawakal adalah pasrah secara total kepada Allah tanpa berbuat apa pun. Sebagian lainnya, menganggap tak penting soal tawakal. Yang penting bagi mereka adalah kerja keras, sehingga mereka kadang memaknai doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah hanya sebatas ritual penenang hati.
Kesalahan pemahaman ini pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Dikisahkan, suatu hari seorang Badui datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan menunggang seekor unta. Sesampainya di depan masjid, orang Badui tersebut langsung masuk masjid dan membiarkan tunggangannya ini tanpa mengikatnya. Ketika ditanya oleh sahabat yang lain, ia menjawab, "Saya bertawakal kepada Allah. Saya serahkan sepenuhnya unta saya ini kepada Allah." Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, "Ikatlah unta itu, kemudian bertawakallah kepada Allah."
Suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal beserta murid-muridnya hendak berangkat ibadah haji. Beliau lalu menyuruh murid-muridnya berkemas. Semua murid beliau mempersiapkan diri secara fisik, mental, maupun finansial, kecuali satu murid saja yang hanya berdiam diri. Imam Ahmad pun heran dan bertanya kepada sang murid, "Kenapa kamu diam saja, tidak mempersiapkan segalanya untuk berangkat haji?"
"Aku bertawakal kepada Allah," jawab si murid.
"Tidak. Kamu tidak bertawakal kepada Allah, tapi kamu bertawakal (bergantung) kepada kawan-kawanmu," tanggap sang imam.
Apa yang dilakukan murid Imam Ahmad di atas seringkali menjangkiti kehidupan kita. Tawakal, menurut Imam Ahmad, bukanlah hanya berdiam diri tanpa usaha. Tawakal juga bukan kepasrahan buta tanpa upaya.
Tawakkal berarti mewakilkan atau menyilakan segala sesuatunya kepada Allah setelah upaya demi upaya termasuk ikhtiar dan doa sudah dilakukannya secara maksimal. Jika belum ada upaya, dan tak dibarengi dengan ikhtiar serta doa, maka belumlah disebut tawakal. Kini jemputlah takdir penuh kebaikan dengan tawakal kepada-Nya. Niscaya Allah cukupkan semua keperluan kita.
Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, yang pergi di awal siang (pagi hari) dalam keadaan perut kosong (lapar) dan pulang di akhir siang (sore hari) dalam keadaan perut penuh berisi (kenyang)." (HR Ahmad, At-Tirmidzi dari 'Umar bin Khattab RA).
Kalo menurut saya, uraian diatas sudah cukup jelas. Dan jika ada beberapa pembaca merasa masih belum jelas, saya sarankan sering membaca dan mengikuti majelis taklim. Supaya ilmu tersebut benar-benar bisa kita pahami.
BalasKepada saudaraku Syawaril.nuris: semoga Allah merahmati anda. berhati-hatilah dalam menilai orang lain, muhasabahlahpada diri sendiri apakah yg sudah anda lakukan untuk ummat? Lebih mudah menilai org lain mmg....
BalasSaya merasa jadi bagian ummat... dan InsyaAllah saya merasa tercerahkan dengan artikel tsb. sepertinya Ust.
syawaril.nuris : anda mau ngetes adu ilmu dan tdk sopan.
BalasSya rang awam dlm agama. Tapi 100% paham dg urain pk ustad
BalasTawakal itu adalah menempatkan diri kita pada posisi yang aman,setelah kita berusaha/ikhtiar... jadi kalo anda tidak merasa aman,ya anda tidak tawakkal... karena hanya orang yang bertawakkal yang akan merasa aman,karena sepenuhnya telah ia percayakan kepada Tuhanya....
Balas