
Oleh Syamsu Hilal
Hati (qalb) manusia itu ibarat lahan tempat bertanam dan jiwa (nafs) adalah petaninya. Setiap petani bebas menanam apa saja yang disukai dan menguntungkan di lahan miliknya. Dia bebas menentukan pupuk apa yang akan digunakan agar tanaman tumbuh subur. Bersamaan dengan itu, dia juga bebas menggunakan pestisida apa saja untuk menjaga tanamannya dari gangguan hama dan penyakit.
Demikianlah tamsil manusia dengan amalnya. Sejak lahir, di dalam setiap jiwa manusia, Allah SWT menyimpan dua benih, yaitu benih fujur (kefasikan) dan benih takwa (kebaikan). Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam QS Asy-Syams: 8-10, "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya."
Petani cerdas tentu saja akan menanam benih takwa di lahan kalbunya dan membiarkan benih fujur tumbuh kerdil dan merana. Dia akan memupuk benih takwa itu dengan Alquran dan sunah sebagai hara utama. Lalu menyiraminya dengan air hikmah, berupa ucapan dan perilaku para salafush shalih.
Bersamaan dengan itu, dia juga berusaha menjauhi segala bentuk maksiat agar tanaman terhindar dari hama dan penyakit. "Dan tanah yang subur, tanamannya tumbuh baik dengan izin Allah, sebaliknya tanah yang gesang tanamannya tumbuh kerdil ...." (QS Al-A'raf [7]: 58).
Tanaman seperti inilah yang diumpamakan oleh Allah SWT dalam QS Ibrahim [14]: 24-25. "Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat."
Betapa indah pohon takwa Rasulullah SAW. Banyak orang melemparinya dengan batu, cacian, dan berbagai fitnah, tapi Rasul SAW selalu membalasnya dengan buah senyum dan kasih sayang.
Begitu pula dengan pohon takwa Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib Radliyallahu anhum, dan para sahabat lainnya yang selalu berbuah akhlaqul karimah. Mereka, generasi pertama Islam yang selalu menjadikan Alquran dan sunah sebagai referensi utama, hingga Aisyah RA menyebut akhlak Rasulullah SAW sebagai Khuluquhul Qur`an (akhlak Rasulullah adalah Alquran).
Bagimana dengan generasi Islam saat ini, apa yang menjadi referensi utama mereka dalam berucap dan bertindak? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para orang tua dan pemimpin Islam saat ini. Wallahu a'lam.
Assalamualaikum...Wr...Wb... saya ingin tanya 2 hal yaitu :
Balas1. Siapakah salafush shalih itu ??
2. Seperti apa perilaku dan ucapan para salafush shalih
di ilhamkan pada jiwa :
Balas1. kefasikan
2. ketaqwaan
biar seimbang, sekarang tinggal kita sendiri mao menyuburkan yang mana dihati kita..
makasih gan buat coretannya ;)
Hati manusia semisal "air di daun talas" dibawa ke sana ke sini, mengikuti sang tuan. Tak mampu dia ubah dirinya, selain sang tuan bawa ke tempat yang diinginkannya. Kadangkala suka kadang duka, dijalaninya dengan membawa serta rekaman hidup yang pernah dia tempuh, sungguh mulia adanya!
BalasKeimanan yg kuat bahwa yg bisa menentukan nasib manusia adalah Allah, maka cacian, kianat manusia tdk memberi dampak kepada nasib seseorang. Keimanan bahwa tdk ada yg dpt memberikan kebaikan dan menimpakan mudharat kecuali Allah menjadikan seseorang tdk risau dg cacian,hinaan&ancaman manusia,hanya takut ancaman Allah.
BalasOrg yg beriman bahwa ketaqwaan mendatangkan kebaikan dan durhaka akan celaka, akan memilih taqwa dan takut durhaka. Org yg tidak beriman bahwa taqwa kpd Allah akan mendatangkan kebaikan dan durhaka akan celaka maka tdk peduli atau tdk akan bertaqwa. Intinya kembali kpd keimanan pd janji Allah bukan janji syaitan
Balas