Kedalaman Makna Surat Al Ikhlash

Selasa, 13 Juli 2010, 20:57 WIB
Kedalaman Makna Surat Al Ikhlash
ilustrasi

Oleh Mahmud Yunus

Allah SWT berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS Al- Bayyinah [98]: 5). Dalam ayat lainnya: "Luruskanlah mukamu (dirimu) pada setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya." (QS Al-'Araf [7]: 29).

Ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan lurus adalah menghindari perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT dalam segala bentuknya dan terhindar dari penyimpangan sekecil apa pun). Kewajiban menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT ditegaskan berulang-ulang di dalam Alquran.

Bahkan, surah ke-112 dinamai dengan Al-Ikhlash (memurnikan keesaan Allah). Secara fisik surah Al-Ikhlash itu terdiri atas empat ayat pendek, namun kandungannya sangat panjang dan luar biasa.

Rasulullah SAW bersabda, "Membaca 'Qul huwa Allahu ahad' pahalanya setara dengan membaca sepertiga Alquran." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'I, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Thabrani, Al-Bazzar, dan Abu 'Ubaid).

Oleh karena itu, Saja' Al-Ghanawi RA mengatakan, "Barang siapa membaca 'Qul huwa Allahu ahad' tiga kali, maka ia seakan-akan membaca Alquran seluruhnya." Atau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Muadz ibn Anas RA berkata, "Barangsiapa membaca 'qul huwa Allahu ahad' sebelas kali, maka Allah (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga."

Atau, seperti yang diriwayatkan Thabrani, bahwa Fairuz RA berkata, "Barangsiapa membaca 'Qul huwa Allahu ahad' seratus kali, di dalam shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang terbebas dari siksa Neraka." Dan, masih ada beberapa riwayat yang lainnya. Namun, perlukah kita menghitung-hitung "kebaikan" atau "ketaatan" kita sendiri?

Menurut Ibn Sina sebagaimana dikutip Muhammad Quraish Shihab dalam salah satu karyanya, niat atau motivasi beribadah itu bertingkat-tingkat. Pertama, tipe pedagang (mengharap keuntungan). Kedua, tipe budak atau pelayan (takut terhadap majikannya).

Ketiga, tipe 'arif (bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT kepadanya). Dan tipe lainnya dinamakan sebagai tipe robot (otomatis, tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).

Tentu bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadah menurut tipe 'arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bahwa tidak sedikit amal (ibadat) yang dibatalkan atau dihapuskan pahalanya akibat niatnya tidak murni karena Allah SWT. Wallahu 'alam.

Redaktur: irf
Abu Ayyub al-Anshari mengatakan bahwa Rasulullah pernah menjama shalat maghrib dan isya di Mudzalifah pada waktu haji wada'. (HR Bukhari)
sutan Syahrir Zabda, Rabu, 11 Agustus 2010, 18:34

Ringkas pemahaman keikhlasan yaitu orang beriman ikhlas bertuhankan Allah tanpa embel2 lain, dan ikhlas beribadah hanya semata kepada Allah-tidak pada selain Allah. Semua perbuatan kita, mulai dari tidur dan bangun tidur, mencari nafkah sampai upaya bertahan hidup agar tdk mati sia2, dst adalah ibadah hanya krn Allah

Balas
sutan Syahrir Zabda, Rabu, 11 Agustus 2010, 18:21

Ringkas pemahaman keikhlasan yaitu orang beriman ikhlas bertuhankan Allah tanpa embel2 lain, dan ikhlas beribadah hanya semata kepada Allah-tidak pada selain Allah. Semua perbuatan kita, mulai dari tidur dan bangun tidur, mencari nafkah sampai upaya bertahan hidup agar tdk mati sia2, dst adalah ibadah hanya krn Allah

Balas
ASUH, Rabu, 14 Juli 2010, 23:52

Tipe yg mnpun dlm 'ibadah insya Allah Allah Swt tdk akn me-nyia2kan kecuali tipe ke 4 itu milik Malaikat

Balas
ulfa, Rabu, 14 Juli 2010, 17:43

menurut saya, utk beribadah dgn motivasi tipe pedagang,atau budak, juga tidak gampang lho, utk sampai ke level inipun seseorang itu harus cukup menghayati ajaran islam. yg paleng ideal memang tipe arif. namun manusia kan hidup berproses. selama tidak tipe robot, menurut saya tidak apa apa.

Balas
M. Ahmadi, Rabu, 14 Juli 2010, 17:27

Coba kita cermati, motivasi beribadah paling banyak di masyarakat kita berturut-turut : type robot, type budak, selanjutnya type pedagang, baru yang terakhir type 'Arif. Ayo bermuhasabah/introspeksi, termasuk yang mana diri kita?

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...