Mensinergikan Piala Dunia dengan Qiyamul Lail

Sunday, 27 June 2010, 01:30 WIB
Mensinergikan Piala Dunia dengan Qiyamul Lail
ilustrasi

Oleh Hasan Yazid

Saat ini, sekitar 2,6 miliar pasang mata menyaksikan perhelatan akbar Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Penikmatnya tak terbatas usia, warna kulit, etnis, agama, dan jenis kelamin. Semuanya bersatu padu menyaksikan hajatan empat tahunan itu. Ada yang menggelar nonton bareng (nobar), baik di rumah, pos kamling, kafe, restoran, maupun hotel.

Sungguh begitu dahsyat magnet deman piala dunia, hingga banyak orang rela antre dan menunggu untuk menyaksikan pemain kesayangannya dan pertandingan antarnegara itu. Tak terkecuali umat Islam, sebagian rela dan turut serta melampiaskan kesenangannya untuk menyaksikan pertandingan tersebut.

Alangkah indahnya, bila sebagian dari waktu menunggu itu bisa dimanfaatkan untuk menghidupkan malam (Qiyamul Lail) guna mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, kesempatan menunggu atau seusai menyaksikan pertandingan tersebut (sekitar pukul 03.30 WIB), digunakan untuk beribadah kepada Allah. Hal itu, jauh akan lebih dahsyat lagi, karena mendapatkan dua keuntungan. Dapat menyaksikan piala dunia, namun juga dapat kebahagiaan dan ketenangan hati karena punya kesempatan lebih dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Menghidupkan malam (Qiyamul Lail) itu, antara lain, bisa dengan mendirikan shalat tahajjud, shalat witir, membaca Alquran, berzikir, munajat, muhasabah, taubat, dan lainnya. Semua itu adalah ibadah yang dicontohkan Rasul SAW dalam mengisi sebagian waktu malam, dengan tujuan mengharapkan ampunan, berkah, dan ridha Allah SWT.

Kedahsyatan Qiyamul Lail telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya. Pertama, orang yang mengerjakannya akan mendapatkan derajat yang terpuji di sisi Allah. "Dan pada sebagian malam hari, bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-Mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."(QS Al-Isra [17]: 79).

Kedua, mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. "Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri (tahajjud) untuk Tuhan mereka." (QS Al-Furqan [25]: 64).

Ketiga, doanya akan dikabulkan dan dosanya diampuni oleh Allah. Sebab, pada sebagian malam terdapat waktu yang mustajab untuk berdoa. Sebagaimana sabda Rasul SAW dalam hadis Qudsi: "Sesungguhnya Allah, jika telah berlalu sepertiga malam yang pertama, perlahan-lahan turun ke langit dunia. Maka, Allah berfirman, "Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, pasti Aku kabulkan permintaannya, dan barangsiapa memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni."

Jika seluruh umat Islam dari berbagai lapisan dan pemimpin negeri ini mau bersama-sama menggerakkan diri untuk menghidupkan malam (Qiyamul Lail), niscaya akan terciptalah kedamaian serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Serta terwujud pula negeri yang diridhai-Nya, Baldatun Thoyyibatun wa rabbun Ghafur. Wallahu a'lam.

Redaktur: irf
Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Mereka diperintahkan oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam agar berlari-lari kecil tiga kali putaran dan berjalan biasa empat kali putaran antara dua rukun (Hajar Aswad dan rukun Yamani). Muttafaq Alaihi. (HR Muslim)
syawaril.nuris, Tuesday, 29 June 2010, 17:54

Orang malas shalat karena tdk percaya kpd petunjuk Allah yg brbunyi " Sungguh org beriman tdk ada penguasa selain Alah, berbuat baik (dk mempersekutukan Allah), berinfak dan melaksanakan shalat maka upahnya (pahalanya) tidak ada ras takut dan sedih (Bahagia). Shalat berarti meraih kebahagian dan itu kemenangan (Falah).

Balas
wanda, Monday, 28 June 2010, 20:19

ahli tahajud tidak akan tertarik dengan perkara dunia, karena kesenangan berjumpa dengan Allah tidak tergantikan dengan apapun di dunia ini. Menonton bola, sekaligus qiyamul lail, menunjukkan tingkat kefahaman pelakunya...

Balas
wahyu, Monday, 28 June 2010, 20:19

Siapa yang mencintai dunianya, maka ia telah membahayakan akhiratnya.Dan siapa yang mencintai akhiratnya, maka ia telah membahayakan dunianya. Maka, utamakanlah apa yang kekal daripada yang binasa (Hr.Bukhari, Muslim)

Balas
rianto, Monday, 28 June 2010, 20:19

Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan menyia-nyiaan harta. Akan tetapi, zuhu terhadap dunia adalah, engkau lebih percaya pada apa-apa yang ada di sisi Allah daripada apa-apa yang ada di tanganmu., dan pahala musibah yagn menimpamu membuatmu lebih suka seandainya dia terus menimpamu (Hr.Tirmidzi)

Balas
IMAM, Monday, 28 June 2010, 02:54

sekalian melatih bangun malam untuk menghadapi Ramadhan pada bulan ini(Rajab)

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...