Kiat Berdakwah dengan Cinta

Kamis, 06 Mei 2010, 08:28 WIB
ant
Kiat Berdakwah dengan Cinta
ilustrasi
Berita Terkait

Oleh A Ilyas Ismail

Pada era baru sekarang dakwah tak boleh dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau cara-cara yang menimbulkan kebencian dan permusuhan. Dakwah sejatinya harus mendekatkan, bukan malah menjauhkan, manusia (mad`u) dari petunjuk Tuhan. Dakwah harus menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang, bukan justru menanamkan kebencian dan permusuhan  (al-`Adawah wa al-Baghdha') .

Dalam bukunya yang amat monumental, 'Dakwah di Era Globalisasi'  (Khithabuna al-Islami fi `Ashr al-Awlamah), ulama besar dunia, Dr Yusuf al-Qaradhawi, mengimbau kaum Muslimin agar berdakwah dengan cinta. Agama, kata al-Qaradhawi, pada intinya adalah cinta, yakni cinta kepada kebenaran, kebaikan, dan kedamaian.

Dakwah, mula-mula harus dilakukan dengan mengajak manusia agar cinta kepada Allah SWT. Sebab, Allah adalah sumber segala nikmat dan Pemberi segala kebaikan. ''Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.'' (QS al-Nahl [16]: 53).

Manusia sejatinya adalah tawanan kebaikan  (asir al-ihsan). Ia cenderung baik dan berbuat baik kepada siapa pun yang baik dan berbuat baik kepadanya. Lantas, bagaimana ia tidak baik dan tidak cinta kepada Allah, Tuhan yang telah melimpahkan kepadanya kebaikan dari ujung rambut hingga ujung kaki. (QS Luqman [31]: 20).

Berikutnya, dakwah dilakukan dengan mengajak manusia agar cinta kepada alam. Berbeda dengan Barat, jelas al-Qaradhawi, Islam tidak memusuhi alam, tetapi mencintainya. Dikisahkan, dalam perjalanan pulang dari suatu lawatan, Rasulullah SAW ditemani beberapa orang sahabat setiba mereka di seberang Gunung Uhud, Nabi berkata, ''Itu Gunung Uhud yang kita cintai, dan ia cinta kepada kita.''

Lalu, berikutnya lagi, dakwah dilakukan dengan mengajak dan menggelorakan rasa cinta kepada manusia dan kemanusiaan. Cinta kepada manusia berarti kita mengharapkan kebaikan, keselamatan, dan petunjuk Tuhan (hidayah) kepada mereka.

Diceritakan, ketika Rasulullah dizalimi orang-orang Thaif, banyak orang meminta agar Nabi berdoa, melaknat mereka. Akan tetapi, Nabi menolaknya, seraya berkata, ''Demi Allah, aku ingin dari kampung ini kelak lahir anak-cucu yang menyembah Allah SWT. Ya Allah, berikan petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka (berbuat kejahatan), lantaran mereka tak mengetahuinya.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi, Rasulullah SAW telah memulai dan memberikan  uswah hasanah dakwah dengan cinta. Imam al-Syahid Hasan al-Banna melanjutkan dan mendorongnya. Katanya,  Naghzu al-nas bi al-hubb la bi al-sayf (Kami akan memerangi manusia dengan cinta, bukan dengan pedang).  Wa Allahu a`lam. Oleh A Ilyas Ismail

Pada era baru sekarang dakwah tak boleh dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau cara-cara yang menimbulkan kebencian dan permusuhan. Dakwah sejatinya harus mendekatkan, bukan malah menjauhkan, manusia (mad`u) dari petunjuk Tuhan. Dakwah harus menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang, bukan justru menanamkan kebencian dan permusuhan  (al-`Adawah wa al-Baghdha') .

Dalam bukunya yang amat monumental, 'Dakwah di Era Globalisasi'  (Khithabuna al-Islami fi `Ashr al-Awlamah), ulama besar dunia, Dr Yusuf al-Qaradhawi, mengimbau kaum Muslimin agar berdakwah dengan cinta. Agama, kata al-Qaradhawi, pada intinya adalah cinta, yakni cinta kepada kebenaran, kebaikan, dan kedamaian.

Dakwah, mula-mula harus dilakukan dengan mengajak manusia agar cinta kepada Allah SWT. Sebab, Allah adalah sumber segala nikmat dan Pemberi segala kebaikan. ''Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.'' (QS al-Nahl [16]: 53).

Manusia sejatinya adalah tawanan kebaikan  (asir al-ihsan). Ia cenderung baik dan berbuat baik kepada siapa pun yang baik dan berbuat baik kepadanya. Lantas, bagaimana ia tidak baik dan tidak cinta kepada Allah, Tuhan yang telah melimpahkan kepadanya kebaikan dari ujung rambut hingga ujung kaki. (QS Luqman [31]: 20).

Berikutnya, dakwah dilakukan dengan mengajak manusia agar cinta kepada alam. Berbeda dengan Barat, jelas al-Qaradhawi, Islam tidak memusuhi alam, tetapi mencintainya. Dikisahkan, dalam perjalanan pulang dari suatu lawatan, Rasulullah SAW ditemani beberapa orang sahabat setiba mereka di seberang Gunung Uhud, Nabi berkata, ''Itu Gunung Uhud yang kita cintai, dan ia cinta kepada kita.''

Lalu, berikutnya lagi, dakwah dilakukan dengan mengajak dan menggelorakan rasa cinta kepada manusia dan kemanusiaan. Cinta kepada manusia berarti kita mengharapkan kebaikan, keselamatan, dan petunjuk Tuhan (hidayah) kepada mereka.

Diceritakan, ketika Rasulullah dizalimi orang-orang Thaif, banyak orang meminta agar Nabi berdoa, melaknat mereka. Akan tetapi, Nabi menolaknya, seraya berkata, ''Demi Allah, aku ingin dari kampung ini kelak lahir anak-cucu yang menyembah Allah SWT. Ya Allah, berikan petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka (berbuat kejahatan), lantaran mereka tak mengetahuinya.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Jadi, Rasulullah SAW telah memulai dan memberikan  uswah hasanah dakwah dengan cinta. Imam al-Syahid Hasan al-Banna melanjutkan dan mendorongnya. Katanya,  Naghzu al-nas bi al-hubb la bi al-sayf (Kami akan memerangi manusia dengan cinta, bukan dengan pedang).  Wa Allahu a`lam.

Redaktur: irf
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bila telah selesai melempar dan mencukur, maka dihalalkan untukmu memakai wewangian dan segala sesuatu kecuali perempuan." (HR Muslim)
mujahidin, Kamis, 22 Desember 2011, 23:52

dan hendaklh ada segolongan diantara kamu yang menyeru kpd yg ma'ruf dan mencegah pd yg mungkar, dan mereka lh orang-oran yg beruntung

Balas
Muthir, Selasa, 10 Mei 2011, 18:51

Tatkala satu kelompok dengan kelompok lain merasa paling benar akhirnya umat islam hanya jadi tontonan oleh umat lainnya sadarlah bersatulah berdasarkan Qur'an dan Sunnah. Wallahu a'lam

Balas
Dian, Sabtu, 24 Juli 2010, 17:36

Mari dalam berdakwah luruskan niat, tidak usah membeda-bedakan kelompok/aliran dalam Islam,kalau itu demi tertegaknya Islam sebagai RAHMATAN LIL 'ALAMIN, kenapa tidak? kita satu tubuh dalam Islam, jadi mari saling bantu membantu dalam berdakwah.

Balas
Aji pamungkas, Kamis, 10 Juni 2010, 17:33

Banyak sekali kasus sptpak Widodo tri S.P ini. Mengangkat hadis tanpa memahami maknanany.asal sebut dari HR. Bukhori..padahal disinyalir ada ribuan hadis palsu yang diriwayatkan oleh Bukhori sekalipun sebagaimana pengakuan beliau.Orang yahudi memang pandai menodai Islam dr dalam,dgn menyesatkan melalui hadis nabi.hati2

Balas
Salafilih, Kamis, 10 Juni 2010, 16:54

Org yang mengatakan Yusuf Alqordhowi dan Hasan al-banna harus dijauhi,adalah korban brainwashing (cuci otak) yahudi yang berusaha menjadikan Islam jauh dari praktek dan ajaran cinta ala Rasulullah sekaligus menjadikan islam sosok angker yang kejam.Padahal ajaran Rasulullah mengandung mahabbah, bahkan pd musuh sekalipun

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, TEGAL - Di Tegal terdapat ketupat dengan kuah santan yang kental dan terasa pedas di lidah, yang...