Senin, 2 Safar 1436 / 24 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Anak Sebagai Cobaan

Kamis, 18 Desember 2008, 06:07 WIB
Komentar : 0
"Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS Al Anfaal [8]: 28). Ingatlah, hidup adalah perpindahan dari satu cobaan ke cobaan yang lain. Cobaan atau ujian tidak selalu identik dengan kesusahan, tapi bisa juga berupa kemudahan. Ujian itu bisa menjadi musibah atau nikmat tergantung cara kita menyikapi kesusahan atau kemudahan itu. Musibah adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa menjauhkan kita dari Allah, sedangkan nikmat adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa mendekatkan kita kepada Allah. Kalau diuji dengan kesusahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menyikapi dengan minder, putus asa, atau berprasangka buruk kepada Allah), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi musibah. Tetapi jika dengan ujian kesusahan kita semakin dekat kepada Allah (menyikapi dengan tetap khusnudzan kepada-Nya, evaluasi diri, tobat, dan memperbaiki diri), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi nikmat. Begitu pula, jika diuji dengan kemudahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menjadi ujub, sombong, takabur), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi musibah. Tetapi jika diuji dengan kemudahan kita semakin dekat kepada Allah (menjadi bersyukur dan tawadhu), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi nikmat. Umpamakanlah ujian hidup ini seperti soal-soal ujian saat sekolah, kita akan stres melihat soal ujian kalau tidak pernah belajar. Kita tidak mungkin menyalahkan soal ujian kalau tidak bisa mengerjakannya. Hanya orang yang selalu mempersiapkan diri dalam hiduplah yang bisa menjadikan setiap cobaan menjadi nikmat yang dapat meningkatkan derajat kemuliaannya baik di dunia maupun di akhirat. Anak-anak itu benar-benar menjadi cobaan bagi orang tuanya, baik kesuksesannya maupun kegagalannya. Memiliki anak yang sukses itu ujian, jika kita menjadi tawadhu, malu kepada Allah dan merasa bahwa semuanya itu karunia Allah, maka itu adalah kesuksesan. Tapi kalau menjadi ujub, takabur, dan merasa berjasa berarti gagal menyikapi anak yang maju. Cobaan bisa dalam bentuk anak yang tidak sesuai dengan harapan. Usahakanlah sekuat tenaga agar kekurangan anak menjadi ladang amal bagi ibu bapaknya. Saya pernah melihat seorang ibu yang anaknya tergelincir, walaupun sudah mencoreng aib, ibunya berkata, "Dia darah daging saya. Saya tetap bertanggung jawab untuk membantu dia kembali ke jalan Allah. Mungkin ini teguran dari Allah karena kami kurang bersungguh-sungguh mendidiknya." Pernah juga ada seorang ibu yang anaknya selalu menyusahkan. Saat anaknya terkena narkoba, ibunya berusaha keras menyembuhkannya. Setelah sembuh, malah masuk penjara, tetapi tetap saja dikunjungi. Ketika ditanya, "Mengapa Ibu tidak habis-habisnya menyayanginya?" "Saya akan terus memperbaikinya sekuat-kuat kemampuan saya karena ini adalah ladang amal bagi saya. Kalau orang lain diuji dengan anak-anak yang cemerlang, mungkin saya diuji dengan ini. Saya tidak malu dihina oleh orang lain. Yang malu itu kalau saya tidak bertanggung jawab terhadap anak-anak saya." Dengan demikian tidak berarti ibu ini terhina dan gagal. Mudah-mudahan hal inilah yang akan menjadikannya sebagai jalan pendekat kepada Allah. Mengurus anak itu bukan sisa waktu, pikiran, dan tenaga, tapi harus menjadi bagian dari kesibukan kita. Jangan sampai anak merasa tidak mempunyai orang tua karena ibu-bapaknya tidak mempunyai waktu untuk mereka. Jangan sampai anak kita merasa ibunya sekadar orang yang melahirkannya, atau merasa bapaknya sekadar orang yang memberinya uang, bahkan ada anak yang merasa para pembantunya sebagai ibu atau bapaknya karena mereka yang selalu menjaganya. Marilah kita terus meningkatkan kesadaran bahwa anak adalah ujian dari Allah. Tekadkan dalam hati, "Saya tidak boleh mengharapkan anak anak saya membalas budi baik kepada saya karena mendidik anak adalah ladang amal. Apakah anak akan membalas budi atau tidak itu urusan anak, tapi saya mengurus anak dengan sebaik-baiknya di jalan Allah, itu adalah urusan saya." Jangan pernah patah semangat. Semoga Allah yang Mahagagah, Mahamenatap, melindungi kita dari cobaan yang tidak sanggup kita memikulnya. Mudah-mudahan cobaan apapun yang kita hadapi bisa disikapi dengan sebaik-baiknya karena memang hidup ini hanyalah cobaan demi cobaan. Wallahu a'lam. Penulis : KH. Abdullah Gymnastiar     
REPUBLIKA - Jumat, 20 September 2002        
Siapa yang mengambil hak orang lain walau sejengkal tanah akan dikalungkan hingga tujuh petala bumi(HR Bukhori-Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Militan Palestina Serang Sinagog, Netanyahu Bersumpah Akan Membalas?
Serangan militan Palestina terhadap sinagoga di Yerusalem semakin meningkatkan ketegangan Israel-Palestina. Menurut pengamat penyebab utamanya adalah kurangnya perhatian Israel atas kesejahteraan pemuda Palestina...