Rabu, 28 Zulhijjah 1435 / 22 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register
Home > >

Iman dan Amal Shaleh

Jumat, 13 Maret 2009, 20:54 WIB
Komentar : 0
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in (yang menyembah bintang), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada rasa takut terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah, 2 : 62)

Ayat ini salah satu di antara beberapa ayat yang seringkali dijadikan hujjah atau rujukan oleh segelintir orang di negeri ini untuk menyesatkan akidah umat. Yaitu mereka yang memproklamirkan dirinya sebagai kaum “pluralisme”, di mana mereka berkeyakinan bahwa “semua agama itu sama” dan karenanya umat dari semua agama berhak untuk masuk syurga, setiap manusia apa pun agamanya maka dia berhak masuk syurga bila dia beramal shaleh. Pernyataan mereka ini tentunya saja sangat membingungkan bagi pemahaman sebagian umat yang awam yang belum memahami kesesatan pandangan mereka, di mana sejak kecil diajarkan oleh orangtua bahwa agama di sisi Allah hanyalah Islam dan siapa saja yang memeluk selain Islam maka celakalah kehidupan dunia dan akhiratnya.

Pernyataan, “semua agama itu benar dan semua orang asalkan beramal shaleh maka dia berhak masuk syurga”. Pernyataan ini sendiri sebenarnya di luar nalar yang sehat. Karena, bagaimana mungkin sebuah akidah dan syariat yang jelas nyata-nyata berbeda bahkan satu dengan yang lain bertentangan sangat tajam namun semuanya sama-sama benar. Sehingga orang yang beriman kepada Allah Yang Esa, Allah yang tidak beranak dan diperanakkan dan tidak ada sekutu bagi-Nya, sama-sama selamat dengan yang meyakini bahwa Allah itu punya anak dan diperanakan misalnya sama juga dengan mereka yang mempertuhankan batu, pohon atau makhluk-makhluk Allah SWT lainya.

“Kalaulah” Tuhan itu tidak Esa, hingga ada beberapa tuhan, yang satu tidak beranak dan diperanakkan, tidak ada sekutu bagi-Nya, sementara tuhan yang satu lagi punya anak dan lain sebagainya, ini semakin tidak masuk akal lagi. Sehingga secara nalar sehat pemikiran semacam ini harus ditolak, karena “sebuah kebenaran itu tidak mungkin bisa lebih dari satu dalam hal yang berbeda”.

Misalnya, suatu saat Si Fulan tidak hadir dalam sebuah pertemuan. Lantas kita tanya pada seseorang, di mana Si Fulan ? Si A mengatakan bahwa dia sedang pergi ke Kota A, sedangkan Si B mengatakan bahwa dia sedang pergi ke Kota B. Kemudian Si C mengatakan, kalian keliru bahwa dia saat ini sedang ke Kota C, sedangkan Si D mengatakan, kalian semua keliru dia tidak hadir karena sedang sakit dirawat di rumah. Berita dari Si A, B, C dan D, mungkinkah semuanya benar ? Tidak mungkin karena jelas berbeda, yang mungkin adalah semua beritanya salah atau hanya satu yang benar.

Kesimpulannya, sebagai seorang Muslim yang meyakini bahwa hanya Islamlah yang benar, maka konsekuensi dari keyakinan ini bahwa semua agama selain Islam adalah sesat dan bukan agama. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran, 3 : 19). Demikian pula dalam firman-Nya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”(QS. Ali Imran, 3 : 85).

Sebenarnya sudah sangat jelas pengertian ayat 62 QS Al Baqarah ini, di mana baik orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani maupun orang-orang penyembah bintang akan selamat bila mereka beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan amal shaleh. Beriman kepada Allah berarti beriman pula kepada risalah (Islam) yang dibawa Rasulullah Saw. Allah SWT berfirman: “Maka jika datang kepada kalian petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaahaa, 20 : 123)

Sehingga jelas pula, arti di balik itu semua bahwa barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah dengan mentaati risalah Islam yang dibawa Rasulullah Saw maka akan sesat dan celaka. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga (Trinitas)” (QS. Al Maidah, 5 : 72-73).

Demikian pula, Allah SWT berfirman: “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At Taubah, 9 : 30). Mereka baru akan selamat bila mereka ikuti risalah Rasulullah Saw.

Berbicara tentang iman dan amal shaleh, maka sering kita jumpai dalam beberapa ayat selalu berdampingan. Artinya, seseorang baru bisa dikatakan beramal shaleh bila dia beriman kepada Allah yang “Ahad” (Esa), akan sia-sialah amal seseorang bila tidak beriman kepada-Nya. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al Kahfi, 18 : 103-104).

Perbuatan mereka sia-sia sehingga di akhirat nanti akan diperlihatkan hasil jerih payah mereka yang sia-sia. Allah SWT berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al Furqaan, 25 : 23). Juga dalam firman-Nya: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS. Ibrahim, 14 : 18). Orang yang beriman kepada Allah tapi shalatnya didasari riya pun tidak akan jadi amal shaleh, apalagi orang yang tidak beriman kepada Allah.

Pada penghujung kajian dakwah ini, saya ajak kita semua merenungkan dua firman Allah SWT di mana secara eksplisit Allah SWT menyatakan bahwa Risalah yang Allah SWT turunkan lewat sekian Rasul (25 di antaranya dan dikisahkan Al Qur’an) sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad SAW adalah Islam, karena mustahil Allah SWT Yang Esa menurunkan risalah pada masing-masing rasul satu dengan yang lain bertentangan. Silakan simak firman-Nya :  “Katakanlah (hai orang-orang mu’min). “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan “Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dari kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya” (QS. Al Baqarah, 2 : 136). Juga dalam firman-Nya: “Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Maa-idah, 5 : 3)

Wallahu a’lam bish-shawab.
Harta itu lezat dan manis, siapa yang menerimanya dengan hati bersih, ia akan mendapat berkah dari hartanya tersebut(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Jika Diperlukan Dalam Kabinet Jokowi, Ini Sikap Muhammadiyah
JAKARTA --  Ketua Umum Muhammadiyah mengharapkan presiden Joko Widodo dan kabinetnya bisa menjalankan amanah dan tunaikan janji yang disampaikan pada kampanye lalu. Untuk siapa...