Kamis , 11 January 2018, 18:56 WIB

Pengamat: Pertumbuhan Asuransi Syariah 2018 akan Lebih Baik

Rep: Binti Sholikah/ Red: Gita Amanda
Republika/ Wihdan
Prediksi Kinerja Asuransi Syariah. (Ilustrasi)
Prediksi Kinerja Asuransi Syariah. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pertumbuhan kinerja asuransi syariah pada 2018 diperkirakan lebih baik dibandingkan 2017. Salah satu pemicunya, 2018 merupakan tahun politik yang tercermin dari banyaknya agenda Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Pengamat Ekonomi Syariah dari Karim Consulting, Adiwarman Karim, mengatakan asuransi syariah tahun 2018 datanya belum terkumpul secara lengkap sehingga Karim Consulting mengalami kesulitan untuk melakukan proyeksi. "Sebab, beberapa asuransi syariah melakukan spin off dan beberapa baru seperti Generali," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (11/1).

Pada akhir Desember 2017, PT Asuransi Askrida Syariah resmi mendapatkan izin operasional dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk spin off dari induknya yakni PT Asuransi Bangun Askrida. Menurut Adiwarman, asuransi syariah yang sudah full fledge tidak bisa menggunakan data proyeksi Unit Usaha Syariah (UUS). Dia juga mencontohkan Generali yang optimistis terhadap pertumbuhan bisnis syariah.

"Pastinya tahun ini lebih baik dari 2017, karena 2018 tahun politik likuiditas banjir," ujarnya.

Adiwarman menambahkan, segmen bancassurance yang tadinya belum digarap optimal oleh asuransi syariah, tahun ini tampaknya akan digarap dengan serius. Dia mencontohkan, melihat dari channel distribusi yang selama ini Prudential sangat menggunakan tulang punggung agensi untuk bergerak, diperkirakan tahun ini Prudential akan masuk bancassurance. Sementara AIA yang lebih mengandalkan bancassurance diperkirakan masuk channel distribusi melalui agensi.

Sebelumnya, Karim Consulting memperkirakan pertumbuhan asuransi syariah pada 2017 mencapai 20 persen. Pencapaian tertinggi diperkirakan diraih oleh asuransi jiwa dengan pertumbuhan mencapai 15 persen atau lebih tinggi.

Berdasarkan data statistik Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per November 2017 total aset asuransi syariah mencapai Rp 38,66 triliun naik dibandingkan posisi November 2016 yang sebesar Rp 32,53 triliun. Aset produktif tercatat sebesar Rp 33,76 triliun, meningkat dibandingkan November 2016 yang sebesar Rp 28,17 triliun.

Total kontribusi bruto sampai November 2017 mencapai Rp 12,31 triliun, meningkat dibandingkan posisi November 2016 yang sebesar Rp 10,91 triliun. Sedangkan klaim bruto juga mengalami peningkatan dari Rp 4,01 triliun pada November 2016 menjadi Rp 4,32 triliun pada November 2017.