Rabu , 27 December 2017, 17:59 WIB

2018, BRI Syariah Targetkan Pembiayaan Tumbuh 10-14 Persen

Rep: Binti Sholikah/ Red: Budi Raharjo
Republika/Putra M. Akbar
Direktur Utama BRI Syariah Mochammad Hadi Santoso
Direktur Utama BRI Syariah Mochammad Hadi Santoso

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- BRI Syariah menargetkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 10-14 persen pada 2018. Pertumbuhan tersebut terutama akan didorong oleh pembiayaan infrastruktur dan sektor konsumer.

Direktur Utama BRI Syariah, Moch Hadi Santoso, mengatakan sampai November 2017 pembiayaan BRI Syariah mencapai 19,85 triliun, tumbuh sekitar 6-7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Menurutnya, pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah tahun ini hampir semua mengalami penurunan (run off).

"Saya mengharapkan tahun depan pembiayaan bisa naik kurang lebih antara 10-14 persen. Yang mendorong dari infrastruktur dan konsumer," kata Hadi kepada Republika di sela-sela acara groundbreaking Menara BRI Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (27/12).

Hadi menjelaskan, fokus Pemerintah arahnya ke pembangunan infrastruktur. Sehingga perbankan syariah termasuk BRI syariah harus masuk sektor tersebut.

Hadi menyebutkan, BRI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sektor infrastruktur sekitar Rp 1 triliun tahun ini. Sebagian di antaranya disalurkan kepada PT Waskita Beton Precast Tbk untuk pembangunan jalan tol.

Tahun depan, BRI Syariah akan tetap fokus pada pembiayaan jalan tol, juga fasilitas transportasi massal seperti kereta. Dia menargetkan penyaluran pembiayaan infrastruktur tahun depan bisa tumbuh dua kali lipat dibandingkan tahun ini.

"Karena dengan infrastruktur yang baik akhirnya perputaran perpindahan orang maupun barang itu semakin lancar. Tentunya itu akan membawa dampak pada perekonomian," jelasnya.

Di samping itu, segmen konsumer juga menjadi bidikan BRI Syariah. Melalui perkembangan infrastruktur, lanjut Hadi, maka akan semakin menjangkau daerah terpencil sehingga menumbuhkan kawasan permukiman baru.

Selama ini, BRI Syariah telah menyalurkan pembiayaan kepemilikan rumah (PPR) program Sejuta Rumah melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Tahun ini, BRI Syariah telah menyalurkan pembiayaan sekitar 850 unit dari target 1.000 unit.

"Kemarin kami juga dipanggil oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, bahwa kami agar lebih banyak lagi di situ. Harapan saya ya kalau sekarang bisa 850 unit, minimal tahun depan bisa 1.500 unit," ungkapnya.

Fokus BRI Syariah dalam menyalurkan pembiayaan juga dikarenakan faktor likuiditas yang berlebih. Saat ini rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (Financing to Deposit Ratio/FDR) tercatat sebesar 72 persen. Hadi berharap, jika perusahaan cepat melakukan ekspansi, rasio FDR ditargetkan mencapai 80 persen pada akhir 2018. "Jadi saya harus menggenjot di pembiayaan," ujarnya.

Meski demikian, perbankan syariah saat ini masih menghadapi risiko pembiayaan bermasalah (Non Performing Financing/NPF). Saat ini NPF net BRI Syariah tercatat di bawah 4 persen.

Risiko lainnya, lanjut Hadi, fluktuasi-fluktuasi harga komoditas yang tidak bisa diprediksi. Namun, sejumlah pengamat menyatakan jika tahun depan ekonomi Indonesia lebih bagus dari tahun ini. Sehingga perbankan syariah bisa lebih mengelola sektor pembiayaan yang dianggap tidak berisiko tinggi.