Kamis , 09 November 2017, 05:14 WIB

ISEF 2017 Dorong Terwujudnya Halal Supplay Chain

Rep: Binti Sholikah/ Red: Budi Raharjo
Republika/ Yasin Habibi
Pengunjung melihat Shari’a Expo dalam acara Indonesia Shari'a Economic Festival (ISEF) 2017 di Grand City, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (8/11).
Pengunjung melihat Shari’a Expo dalam acara Indonesia Shari'a Economic Festival (ISEF) 2017 di Grand City, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (8/11).

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA -- Penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017 ditargetkan dalam mempercepat terwujudnya halal supplay chain atau halal economic and finance chain. Sehingga Indonesia bisa mengejat ketertinggalan dari negara-negara lain yang telah menerapkan halal supplay chain.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan tema ISEF 2017 berkaitan dengan bagaimana mempercepat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya untuk mendorong ekonomi di Indonesia maupun global. Melainkan juga bagaimana perkembangan ekonomi bisa secara inklusif sekaligus tahan terhadap berbagai gejolak.

Tema tersebut dinilai sejalan dengan momentum mulai dilakukannya koordinasi secara nasional dalam Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang sudah diluncurkan Presiden Joko Widodo pada 27 Juli 2017. KNKS dimaksudkan melakukan koordinasi dan integrasi termasuk akselerasi berbagai program-program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Menurut Perry, penyelenggaraan ISEF tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mulai tahun ini dan ke depan, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah didasarkan ada tiga strategi utama. Ketiganya yakni, mempercepat pengembanga ekonomi syariah. Dalam bentuk mempercepat halal supplay chain atau jejaring produksi aktivitas ekononi yang terintegrasi, baik besar, menengah dan kecil termasuk pemberdayaan ekonomi pesantren maupun kelompok usaha lain.

"Indonesia perlu melaksanakan program terbentuknya halal supplay chain jejaring produksi sampai pemasaran, pemenuhan berbagai kebutuhan halal di Indonesia. Karena dalam berbagai kesempatan Indonesia menjadi pasar halal terbesar di dunia apakah makanan, fashion, kosmetik, farmasi dan lain-lain," kata Perry dalam acara konferensi pers hari kedua ISEF 2017, Rabu (8/11).

Pada 2015, pernah diestimasi jumlah kebutuhan terhadap produk halal sekitar Rp 3.000 triliun. Karenanya, menurut Perry, Indonesia harus menciptakan pelaku bisnis besar, menengah dan kecil untuk memproduksi, memasarkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan produk halal. Sehingga kebtuhan masyarakat semakin banyak dipenuhi dari dalam negeri.

"Fokusnya antara lain adalah halal food, halal fashion, juga mengenai halal tourism. Sampai kemudian juga kosmetik maupun obat-obatan. Nah pelaku-pelaku ekonomi mulai dari pesantren sampai asosiasi," imbuhnya.

Pada ISEF kali ini, BI lebih fokus pada pemberdayaan ekonomi dan kerjasama dengan lembaga lain. Perry menilai, Indonesia tidak akan bisa berhasil mengembangkan sektor keuangannya kalau hanya fokus kepada sektor keuangan. Caranya, pemberdayaan ekonomi harus didorong. BI menampilkan model-model ekonomi pesantren.

"Ini harus dibuat suatu jejaring yang mendukung proses produksi sampai penjualan. Kalau itu sudah besar, bank-bank syariah kita akan gemuk dan besar," ucapnya.

Esensi halal supplay chain yakni suatu jejaring aktivitas ekonomi yang bisa memproduksi dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan produk maupun jasa halal. Elemen-elemen di dalamnya ada elemen sektornya maupun pelaku bisnisnya.

Dalam elemem sektornya, jika melihat negara lain, Indonesia dinilai perlu fokus pada sektor mana yang menjadi unggulan dan kompetitif dibanding negara lain. "Di dalam diskusi kita kompetitif di halal food. Estimasi dari berbagai pihak pada 2015 total aktivitas ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia hampir Rp 3.000 triliun atau 0,22 triliun dolar AS. Srkitar 70 persen itu halal food, dari beras sampai bumbu-bumbuan. Dan itu merupakan pasar terbesar di dunia," papar Perry.