Rabu , 08 November 2017, 16:25 WIB

Nasib Perbankan Syariah pada 2018, Ini Prediksinya...

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Budi Raharjo
republika
Adiwarman Karim
Adiwarman Karim

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Memasuki 2018, perbankan syariah nasional diprediksi tumbuh positif. Hal ini didorong keberpihakan pemerintah.

Dalam paparan Proyeksi Perbankan Syariah 2018 oleh Karim Consulting Indonesia (KCI), Presiden Direktur Karim Consilting Indonesia Adiwarman Karim menjelaskan, 2018 akan jadi titik tolak bagi perbankan syariah. Perbankan syariah akan tumbuh lebih baik setelah selama 2015-2017 mengalami masa sulit.

Akan banyak dorongan dari Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) antara lain inisiasi pembentukan bank BUMN syariah besar. Ada juga integrasi zakat, pengembangan gaya hidup halal yang berdampak pada perbankan syariah, dan pengembangan peran wakaf melalui lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) 'Bank Wakaf'.

''Kami memprediksi akan ada penanaman modal negara plus tambahan modal dari induk pad salah satu bank syariah nasional sehingga bank syariah tersebut jadi bank BUMN syariah besar,'' kata Adiwarman di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Rabu (8/11).

KCI juga melihat ada kemungkinan penggabungan satu bank syariah dengan UUS satu bank yang punya bisnis utama yang sama di pembiayaan perumahan. Selain itu, konversi Bank NTB menjadi bank syariah penuh juga akan membawa angin segar bagi perbankan syariah nasional.

''Adanya tambahan aset dari pembentukan bank syariah BUMN, merger, dan konversi bisa menaikkan pangsa pasar perbankan syariah sekitar delapan persen. Tapi kalau tidak, hanya sekitar enam persen,'' tutur Adiwarman.

Dalam skenario normal, KCI memprediski tingkat pengembalian aset (ROA) akan mencapai 3,39 persen dan aset Rp 462,03 triliun. Pada skenario optimistis, ROA perbankan syariah akan mencapai 4,09 persen dan aset Rp 501,09 trilun. Pada 2018 tingkat pembiayaan bermasalah (NPF) juga akan membaik ke kisaran 1,5-1,8 persen. ''Tapi itu semua akan tergantung aksi korporasi,'' ucap Adiwarman.

Kehadiran LKMS 'Bank Wakaf' juga jadi contoh bagaimana pembiayaan murah bisa dinikmati masyarakat sekitar pesantren. Tiap LKMS akan menerima sekitar Rp 6 milar yanga setengah dananya akan disimpan sebagai dana abadi deposito syariah dengan imbalan lima persen dan sisa dananya akan jadi pembiayaan ke nasabah dengan margin tiga persen per tahun. ''Dana untuk pesantren ini bukan dari bank atau pemerintah, tapi konglomerat,'' kata Adiwarman.