Rabu , 24 Juli 2013, 12:16 WIB

Keuangan Mikro Syariah Butuh Komitmen

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Nidia Zuraya
Republika/Aditya
Baitul Mal wa Tamwil (BMT)
Baitul Mal wa Tamwil (BMT)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bisnis usaha keuangan mikro syariah memerlukan komitmen tersendiri dari para pelakunya. Keuangan mikro syariah juga membutuhkan usaha sistematis dalam mengembangkannya. Terlebih lagi banyak bank besar yang saat ini mulai menyasar segmen mikro. Bisnis mikro syariah dianggap menguntungkan karena rasio pembiayaan macet cenderung kecil.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad mengatakan usaha mikro syariah tidak hanya sekadar memberi uang melalui pembiayaan tetapi juga memberdayakan masyarakat agar ketika menerima pinjaman tersebut, pikiran mereka lebih terbuka. Menurutnya ada dua kategori bank jika dipandang dari usaha mikronya, yakni bank yang berhasil dan yang tidak.

"Mereka yang berhasil adalah bank yang mampu menginvestasi sumber dayanya, tidak hanya memberi pembiayaan tapi memberikan waktu untuk membina mental masyarakat," ujarnya di Hotel Lumire, Jakarta, Selasa (23/7). Sementara yang kurang berhasil adalah bank yang hanya memberikan uang.

Muliaman menilai hal itu sudah ketinggalan zaman. Oleh karena itu saat ini sebagian bank rajin membina nasabah di akhir pekan, pada Sabtu dan Ahad.

Menurutnya, keuangan syariah harus berhasil mewujudkan inklusi keuangan. "Akses keuangan harus mudah terutama bagi kalangan mikro," ucapnya. Para pelaku keuangan syariah harus mampu menyiapkan, membangun dan mengembangkan keuangan syariah sehingga masyarakat bisa menjadi bagian sistem keuangan.

Muliaman berujar keuangan syariah sudah masuk ke desa-desa, terutama melalui lembaga keuangan mikro seperti Baitul Mal wat Tamwiil (BMT) dan koperasi syariah. Sementara di kota besar, keuangan syariah sudah diramaikan tidak hanya oleh perbankan syariah tapi juga asuransi syariah, pegadaian syariah dan pasar modal syariah.

Sayangnya industri keuangan syariah hingga kini dinilai masih belum optimal padahal potensi pasarnya besar. Sebagai suatu konsep, keuangan syariah belum banyak dikembangkan. "Oleh karena itu kami mengajak generasi muda agar dapat menggunakan ekonomi syariah untuk menjawab persoalan bangsa, mengentaskan kemiskinan dan mengukuhkan stabilitas ekonomi nasional," kata Muliaman.

Hingga 2012, aset industri keuangan syariah mencapai sekitar Rp 200 triliun. Pertumbuhan rata-rata 30 persen pertahun. Dia memproyeksi, tahun depan aset keuangan syariah mencapai Rp 265 triliun. Menurutnya, industri perbankan syariah di Indonesia sudah lengkap. Hanya saja masih bermasalah pada market share yang hingga kini baru mencapai 5 persen.

Berita Terkait