Kamis , 14 September 2017, 19:32 WIB

Pertumbuhan Pasar Modal Syariah Dua Kali Konvensional

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Dwi Murdaningsih
Republika/Rakhmawaty La'lang
Aktifitas petugas memperhatikan pergerakan IHSG di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin(10/7).
Aktifitas petugas memperhatikan pergerakan IHSG di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin(10/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pasar modal syariah harus lebih diperhatikan. Sebab, potensi pasar modal syariah sangat besar. Pertumbuhan saham syaraiah dua kali saham konvensional.

BEI mencatat, secara presentase, transaksi saham di BEI didominasi oleh saham berbasis syariah. Sebanyak 62 persen jumlah saham yang ditransaksikan di BEI merupakan saham berbasis syariah, kemudian 55 persen kapitalisasi pasar di BEI merupakan saham syariah, bahkan 56 persen nilai transaksi saham di BEI dilakukan di saham berbasis syariah. 
 
"Syariah itu growth-nya dua kali growth konvensional. Kita itu negara Islam terbesar di dunia jadi produk kita memang syariah," ujar Direktur Utama BEI Tito Sulistio di Jakarta, Kamis, (14/9).
 
Ia pun menyebutkan, jumlah investor saham syariah pun terus tumbuh. Pada 2014, persentasenya baru 0,7 persen, kemudian meningkat 1,1 persen di 2015, lalu naik lagi di 2016 menjadi 2,3 persen, sekarang per Agustus 2017, jumlah investor saham syariah mencapai 3,1 persen. 
 
"Kalau dilihat, peminatnya banyak sekali yang bicara syariah tapi memang saat ini belum end to end. Maka kita sedang develop, bagaimana caranya  dari mulai order produk sampai proses pada emiten," kata Tito. 
 
Menurutnya, pasar modal syariah harus terus dikembangkan agar lebih maju. Salah satunya dengan membuat end to end produk bersyariah.
 
"Jadi misalnya, syariah itu, kalau broker investor punya uang Rp 100 juta, dia bisa order Rp 200 juta misalnya punya stok saham Rp 10 miliar. Kalau di syariah, produk margin itu tidak bisa walaupun ada stok saham Rp 2 miliar hanya boleh transaksi Rp 10 juta. Ini yang tidak gampang, harus end to end produk dan proses," kataTito. 
 
Ke depannya, ia berencana mengusulkan ada direktur khusus untuk pasar modal syariah agar lebih fokus dalam membesarkan pasar modal syariah. Di beberapa negara seperti Malaysia pun, kata dia, ada direktur khusus syariah.
 
Sebelumnya BEI mencatat, dari sisi volume, pertumbuhan nilai dan frekuensi transaksi saham berbasis syariah dari 2011 sampai Agustus 2016 jauh lebih tinggi dibandingkan saham non syariah. Rata-rata pertumbuhan volume transaksi saham syariah 167,2 persen berbanding 130 persen non syariah. 
 
Sedangkan dari sisi rata-rata pertumbuhan nilai transaksi saham syariah dalam lima tahun terakhir mencapai 70,7 persen berbanding 25,4 persen non syariah. Sedangkan rata-rata pertumbuhan frekuensinya mencapai 185,7 persen berbabding 160,7 persen non syariah.
 
Lalu untuk efek selain saham, seperti sukuk, nilai outstanding sukuk negara di BEI sudah mencapai Rp 310,38 triliun. Sementara outstanding sukuk korporasi nilainya Rp 14,26 triliun. 
 
Kemudian pernerbitan Surat Berharga Negara Syariah di sepanjang 2015 sampai 2016 tercatat sebesar 61,9 persen. Angka itu melampaui penerbitan Surat Berharga Negara Konvensional yang hanya 31,9 persen.