Kamis , 14 September 2017, 13:58 WIB

Pembiayaan Syariah di Jabar Masih Didominasi Konsumsi

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Nidia Zuraya
Republika/Wihdan Hidayat
Perbankan Syariah
Perbankan Syariah

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Provinsi Jawa Barat (Jabar) memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Menurut Deputi Direktur BI Kanwil Jabar Jawa Barat, Suarpika Bimantoro, Jabar merupakan provinsi terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak secara nasional yakni sekitar 47 juta jiwa dan 98 persen penduduknya Muslim.

Sehingga, kata Suarpika, Jabar memiliki modal sumber daya manusia yang sangat potensial untuk diarahkan sebagai insan penggerak pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Namun, kata dia, pada kenyataannya saat ini, penetrasi pemanfaatan layanan jasa keuangan syariah di Jawa Barat masih perlu disosialisasikan.

Pangsa pemanfaatan layanan jasa pembiayaan perbankan syariah di Jawa Barat terhadap total kredit perbankan di Jawa Barat masih relatif kecil, yaitu 8,4 persen. Meskipun, angka ini sudah lebih baik dibandingkan dengan pangsa pemanfaatan layanan jasa pembiayaan perbankan syariah nasional terhadap total kredit perbankan nasional yang baru mencapai 5,9 persen.

Di sisi lain, kata dia, kondisi perkembangan keuangan syariah di Jawa Barat yang terpantau pada kuartal II 2017 mengalami peningkatan. Hal ini didorong oleh pertumbuhan pembiayaan perbankan umum syariah di Jawa Barat yang meningkat.

Hingga kuartal II 2017, pertumbuhan pembiayaan syariah di Jabar sebesar 10,6 persen (yoy) meningkat dari kuartal I 2017 sebesar 8,4 persen (yoy). "Berdasarkan distribusi jenis kegiatannya, pembiayaan syariah di Jabar masih didominasi untuk kegiatan konsumsi sebesar 49 persen," ujar Suarpikapada Kick-Off kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2017 yang bertemakan 'Mewujudkan Jawa sebagai Poros Pemberdayaan Ekonomi Syariah Nasional', bertempat di Bale Asri Pusdai Bandung, Kamis (14/9).

Sementara pemanfaatan pembiayaan syariah, kata dia, untuk pembentukan modal kerja usaha, sebesar 31 persen dan untuk keperluan kegiatan investasi baru 21 persen. Selain itu, kata dia, DPK perbankan umum syariah di Jawa Barat pada kuartal II 2017 tercatat tumbuh stabil sebesar 14,2 persen (yoy) dibanding kuartal I 2017. Pangsa DPK Perbankan Syariah Jabar terhadap Total DPK Perbankan Syariah Nasional sebesar 11,7 persen.

"Hal-hal tersebutlah yang mendorong Bank Indonesia melakukan berbagai upaya yang dapat meningkatkan pangsa keuangan syariah di Jawa Barat," katanya.

Salah satunya, kata dia,melalui kegiatan FESyar Regional Jawa ini yang berkolaborasi dengan Kantor Regional 2 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat dan berbagai lembaga keuangan syariah bank dan non bank di Jawa Barat.