Sabtu , 12 August 2017, 05:00 WIB

Kembangkan Fintech, Ethis Venture Siap Rangkul BPRS

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Budi Raharjo
Google
Fintech Lending. Ilustrasi
Fintech Lending. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,MAKASSAR -- Industri perbankan semakin memberi kemudahan bagi nasabahnya. Terlebih setelah financial technology (fintech) menjadi sarana penunjang dalam melakukan transaksi.

Tak heran, beberapa perbankan pun mulai berbondong-bondong untuk mengakrabkan diri dengan fintech. Begitu pula dengan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Gayung bersambut, pelaku fintech pun siap untuk merangkul BPRS demi terciptanya sebuah sinergi dalam dunia usaha.

CEO Ethis Venture, Ronald Wijaya mengatakan, dirinya sangat menyambut positif adanya sinergi antara fintech dan BPRS. "Saat ini kami juga sudah melakukan sinergi dengan salah satu perbankan BUMN (Badan Usaha Milik Negara)," kata Ronald kepada Republika di sela seminar Sinergi Industri BPRS dan Fintech Dalam Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia di Makasar Jumat (8/11).

Melalui seminar yang digelar oleh Kompartemen BPRS Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) itu, ia juga mengatakan bahwa dengan adanya sinergi yang telah terjalin dengan perbankan BUMN itu maka sinergi dengan BPRS pun juga memungkinkan untuk dilakukan.

Menurutnya, sinergi yang telah terjalin itu adalah melalui kerja sama dengan menindak lanjuti beberapa nasabah atau klien perbankan yang dinilai belum bankable. Dengan adanya kerja sama itu maka Ethis dapat menindaklanjuti dengan malakukan eksporasi yang lebih mendalam.

"Setelah dikaji, jika memang dinilai nasabah itu memiliki potensi, maka kami yang akan mendanainya," ujar dia. Tak hanya itu, kerja sama juga dapat dilakukan dengan cara sebaliknya, klien dari Ethis dapat menikmati pendanaan dari sektor perbankan.

Ethis Venture sendiri adalah fintech yang bergerak di bidang crowd funding atau dana patungan. Kehadiran Ethis ini merupakan solusi bagi pemodal yang ingin berinvestasi untuk sebuah proyek yang bernilai cukup besar melalui patungan usaha.

Menurut Ronald, dengan saling memberi referensi ini maka akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak dengan adanya biaya provisi. Ia optimsitis, dengan adanya sharing dan sinergi ini maka akan memberikan dampak postif bagi seluruh pihak.

"Saya menilai, kerja sama seperti ini merupakan kerja sama awal paling ideal yang dapat juga diterapkan dengan BPRS," ucapnya.

Selain itu, ia juga tak menutup kemungkian jika kedepan sinergi itu diperluas dengan menggandeng fintech sebagai lead investor, yang artinya bank akan mencakup sekitar 70 persen biaya investasi jika 30 persen dana dapat diperoleh dari crowd funding.

Artinya, setelah tiga puluh persen dana terkumpul melalui crowd funding maka perbankan akan menyepakati pencairan sisa pendanaan yang diperlukan.

Ia pun optimistis sinergi dengan BPRS dapat berjalan dengan optimal meningat BPRS identik dengan masyarakat di daerah. Ronald sempat mengjaji bahwa masyarakat di daerah memiliki rasa apresiasi tanggung jawab yang cukup tinggi terhadap pembiayaan yang diberikan oleh lembaga keuangan.

"Setelah dibiayai, masyarakat di daerah seperti memiliki ikatan emosianal tertentu sehingga memiliki willingness to pay yang relatif tinggi," ujar dia.

Meski ia mengakui, untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat di daerah memiliki tantangan yang tak mudah. Oleh karena itu, ia merasa perlu untuk dapat menyampaiakan konsep perbankan dan fintech secara sesederhana mungkin sehingga dapat diterima.

Dari sini ia menilai bahwa seluruh pihak yang terkait dalam hal ini perlu untuk bersinergi dalam memberi edukasi kepada masyarakat. Sehingga, konsep the new economy ini dapat diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat.


Sumber : Center