Selasa , 13 Juni 2017, 14:49 WIB

BIJB Dapat Pembiayaan Rp 906 Miliar dari Sindikasi Bank Syariah

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Nidia Zuraya
Antara/Yudhi Mahatma
Lanskap maket proyek pembangunan Bandara Internasional Kertajati di Kab.Majalengka, Jawa Barat, Kamis (14/1).
Lanskap maket proyek pembangunan Bandara Internasional Kertajati di Kab.Majalengka, Jawa Barat, Kamis (14/1).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) mendapat bantuan pembiayaan senilai Rp 906 miliar dari sindikasi perbankan syariah. Sindikasi perbankan syariah ini terdiri dari gabungan 7 perbankan syariah daerah yakni Bank Jateng Syariah, Bank Sumut Syariah, Bank Sulbar Syariah, Bank Kalbar Syariah, Bank Sulbar Syariah, Bank Jambi Syariah, Bank Kalsel Syariah, dan Bank Jabar Banten (BJB).

Peresmian bantuan ini ditandai dengan penandatangan akad pembiayaan BIJB dengan sindikasi Perbankan Syariah yang disaksikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan di Aula Barat Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (13/6).

Direktur Utama PT BIJB Virda Dimas menyambut baik bantuan pembiayaan dari sindikasi perbankan syariah. Virda mengatakan total pembiayaan Bandara Kertajati mencapai Rp 2,16 triliun. Karena bantuan pembiayaan perbankan syariah sangat membantu karena selama ini masih diseror oleh pemegang modal.

"Pembanguann saat ini masih disetor pemegang modal sebesar Rp 808 miliar dari total biaya Rp 2,16 triliun yang harus disupport modal dan pinjaman. Hari ini penuh berkah setelah menjajaki pembiayaan bandara total Rp 906 milar dari 7 bank syariah di daerah," kata Virda.

Virda menutukan pembiayaan tersebut akan diutamakan untuk alokasi pembanguann infrastruktur. Hingga saat ini secara umum pembangunan Bandara Kertajati sudha mencapai 46 persen.

Ia menuturkan ada tiga paket pembangunan yang tengah dilakukan PT BIJB. Yakni paket infrastruktur akses jalan yang sudah mencapai 79,27 persen, paket terminal utama 28,54 persen, dan gedung pendukung operasi sudah 69,10 persen.

Dengan bantuan pembiayaan ini, maka PT BIJB bisa mengoptimalkan pembangunan yang direncanakan kontruksinya rampung pada Desember 2017 ini.

Sementara sisa pembiayaan lainnya, Virda mengaku pihaknya akan menjajaki kerjasama dengan bank konvensional atau lembaga reksa dana penyertaan terbatas (RDPT). Sehingga dapat mencukupi seluruh biaya yang dibutuhkan.

Ia pun berharap dari dana Rp 2,16 miliar bisa ditambah cadangan hingga Rp 2,5 miliar untuk mengantisipasi kenaikan harga.
"Jadi ini masih dinamis porsi pembiayaannya. Nanti kita lihat saja perkembangannya. Kalau tadi semangat syariah sudahlah semuanya. Pembicaraan tahap 2 mungkin masuk bersama konvensional," ujarnya.

PT BIJB berharap untuk kedepannya dapat terus berkarya dan memohon dukungan dari segenap masyarakat agar impian untuk mewujudkan Bandarudara Internasional kebanggaan rakyat Jawa Barat yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2018 dapat tercapai.

Perwakilan Sindikasi Perbankan Syariah Hana Wijaya menyebutkan Rp 906 miliar merupakan gabungan dana dari masing-masing bank yang tergabung. Dengan rincian antaranya Bank Jateng Syariah senilai Rp 366 miliar, Bank Sumut Syariah, Rp 150 miliar, Bank Jambi Syariah Rp 100 miliar, Bank Kalbar Rp 100 miliar, Bank Kalsel Ro 100 miliar, Bank Sulsel Rp 50 miliar, Bank BJB Rp 40 miliar.

Hana menuturkan kesempatan terlibat pembiayaan proyek strategis nasional menjadi sebuah peluang bagi perbankan syariah untuk tetap eksis. Sehingga ia pun menyampaikan ketertariakn untuk membantu sisa pembiayaan pada tahap selanjutnya.

"Tahap kedua kita arrange untuk bisa menuntaskan, mudah-mudahan full pembiayaan BIJB bisa dari syariah. Sudah ada 8 bank sindikasi syariah yang siap untuk ikut tahap dua setelah lebaran," tuturnya.