Kamis , 08 Juni 2017, 13:51 WIB

SMI Berencana Terbitkan Sukuk

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nur Aini
Logo PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)
Logo PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mengaku kebanjiran penawaran untuk menerbitkan instrumen utang syariah yakni sukuk. Namun, rencana penerbitan sukuk belum akan terealisasi dalam waktu dekat.

Direktur Keuangan SMI, Agresius Kadiaman mengatakan, untuk permodalan divisi usaha syariah sejauh ini masih injeksi modal dari SMI langsung.

"Kita belum mengeluarkan sukuk karena belum ada lawannya. Kita masih kuat secara ekuitas. Mungkin secepat-cepatnya tahun depan," ujar Agresius kepada Republika.co.id, Rabu (7/6).

Menurut Agresius, meski rencana penerbitan sukuk belum ada dalam waktu dekat, tetapi berbagai pihak sudah sangat tertarik untuk berpartisipasi dalam instrumen utang syariah di SMI. Ia mengaku, sudah banyak penawaran mengenai penerbitan sukuk. Bahkan Malaysia pun sudah menunjukkan ketertarikan untuk sukuk dari SMI.

"Tapi terus terang, kami ingin menjajaki sampai tahun ini kami masih bisa dengan modal sendiri, ataupun mereka menerbitkan instrumen yang mana seperti perjanjian investasi," tutur Agresius.

Selain Sukuk, SMI berencana menerbitkan obligasi, rencananya di akhir tahun ini atau awal 2018. Sementara itu, PT SMI menargetkan penyaluran pembiayaan sekitar Rp 67 triliun di akhir 2017, sedangkan realisasinya sekitar Rp 52 triliun sepanjang Januari-Mei ini. Adapun target penyaluran pembiayaan divisi syariah yakni berada di kisaran Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun.

Direktur Utama PT SMI, Emma Sri Martini mengatakan, pada tahun ini, terdapat tiga sektor yang telah disusun SMI untuk pembiayaan UUS. Proyek pertama, pembiayaan untuk pembangunan jalan tol senilai Rp 500 miliar melalui skema murabahah atau jual beli. "Pembiayaan ke tol Rp 500 miliar, untuk Trans-Jawa," kata Emma.

Proyek kedua, UUS SMI berencana melakukan pembiayaan ke sektor kilang BBM senilai 75 juta dolar AS atau sekitar Rp 1 triliun (kurs Rp 13 ribu per dolar AS). Proyek dengan skema sewa beli atau ijarah muntahia bittamlik (IMBT) ini menyerap dana dari luar negeri.

Tercatat selama sewindu berdiri, Kinerja Perseroan PT SMI telah tumbuh dengan signifikan. Hal ini terefleksi dari pertumbuhan aset, dari sebesar Rp. 1,1 triliun pada 2009 dan pada 2016 telah mencapai Rp 44,3 triliun atau tumbuh dengan compounded annual growth rate (CAGR) sebesar 70 persen setiap tahunnya. Pendapatan usaha juga tumbuh dengan CAGR sebesar 64 persen dari semula Rp 72,8 miliar di tahun 2009 menjadi Rp 2,3 triliun pada 2016. Pertumbuhan ini diikuti oleh pertumbuhan laba bersih dengan kenaikan CAGR 54 persen per tahun dari semula Rp 57,8 miliar pada 2009 menjadi Rp 1,2 triliun pada 2016.


Berita Terkait