Jumat , 17 Maret 2017, 02:21 WIB

Nyaman Berbank Syariah, Usaha Distribusi Udang Semakin Berkah

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Budi Raharjo
Republika/Agung Supriyanto
Pekerja memilah udang di tempat distributor udang yang merupakan salah satu nasabah mikro BSM di Kalibaru, Cilingcing, Jakarta Utara, Kamis (16/3)
Pekerja memilah udang di tempat distributor udang yang merupakan salah satu nasabah mikro BSM di Kalibaru, Cilingcing, Jakarta Utara, Kamis (16/3)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Ini namanya udang Tiger. Pernah dimakan Raja Salman waktu berkunjung kemarin."

Ahmad Yani, pria berusia 47 tahun itu menceritakan saat menunjukkan pasokan udangnya di Kalibaru, Jakarta Utara, Kamis (16/3). Bisnis yang dilakukannya adalah memasok berbagai jenis udang hasil tangkapan nelayan ke restoran-restoran dan supermarket di domestik. Salah satunya adalah Hotel Raffles yang menjadi tempat menginap Raja Salman beberapa waktu.

Usaha memasok udang ini telah dijalani Ahmad selama 15 tahun. Awalnya, Ahmad yang berasal dari keluarga pemasok udang ini bekerja bersama keluarganya dan memulai bisnis ini dengan mengekspor udang ke negara tetangga. Kemudian pada tahun 2010 lalu ia beralih menjadi pemasok di pasar domestik, seiring berbagai peraturan pada perikanan tangkap yang dimaksudkan agar sumber daya laut tetap lestari.

Saat memulai usaha sebagai pemasok udang domestik tersebut, ia mengajukan pinjaman mikro ke Bank Syariah Mandiri (BSM) sebesar Rp 200 juta dengan tenor 2 tahun. Awalnya yang disetujui baru sebesar Rp 100 juta dengan waktu pencairan selama 2 minggu sejak pengajuan.

Kemudian karena usahanya berjalan baik dan pembayaran pun lancar, maka ia mendapatkan tambahan plafon sebesar Rp 150 juta lalu Rp 200 juta saat perpanjangan tenor. "Saya pakai BSM karena terjangkau, dan prinsipnya syariah, pakai murabahah. Alhamdulillah untung juga. Berkah," kata Ahmad.

Tiap bulannya Ahmad memasok udang sebanyak 1-2 ton dan mendapatkan omzet sebesar Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun. Sementara nisbah atau hasil keuntungan dari perjanjian antara bank syariah dengan nasabah dibayarkan sekitar Rp 8,7 juta per bulannya. Meskipun usaha ini terbilang fluktuatif bergantung pada cuaca dan musim lainnya, menurut Ahmad, sejauh ini usahanya terus mendapatkan keuntungan.

Hal yang paling penting, ia lebih nyaman dengan menggunakan sistem syariah yang menurutnya lebih berkah. "Saat musim hujan sepi, tapi saat musim panen dan musim wedding kita banyak pesanan. Fluktuatif tapi alhamdulillah masih untung terus," kata Ahmad.

Menurut Branch Manager BSM Cabang Kramat Jaya Jakarta Utara, Indri Rachman, di wilayah cabangnya terdapat 230 nasabah mikro dan dari jumlah tersebut sebanyak 30 nasabah merupakan pengusaha di bidang kelautan dan perikanan. Sektor produktif dinilai masih memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan.

Indri menambahkan, usaha yang dijalani oleh Ahmad merupakan sektor produktif yang potensial untuk dibiayai. Oleh karena itu setiap 2 tahun, pembiayaan Ahmad bisa diperpanjang terus. Pembiayaan mikro di BSM memiliki tenor maksimal 4 tahun dengan nilai maksimal Rp 200 juta.

"Usahanya bagus dan jaminannya bagus, jadi bisa diperpanjang terus. Bahkan sudah naik kelas. Kalau nasabah mau, bisa ke business banking untuk pinjaman lebih besar," tutur Indri.