Kamis , 16 March 2017, 08:29 WIB

Keuangan Syariah Indonesia Bisa Belajar dari Inggris

Red: Agus Yulianto
istimewa
Murniati Mukhlisin
Murniati Mukhlisin

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Masyarakat Ekonomi Syariah Perwakilan UK mengadakan pelantikan pengurus tahun 2017-2018 di Kota Durham, Inggris, pada 12 Maret 2017. Di dalam acara pelantikan, Murniati Mukhlisin, penulis buku Sakinah Finance, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua STEI Tazkia, Indonesia, diundang untuk memberikan motivasi dan arahan kepada pengurus baru dan peserta kajian melalaui telekonferensi.

Ebi Junaidi, Ketua MES-UK terpilih, mengatakan, bahwa program sosialisai ekonomi syariah yang dijalankan nanti akan menyambung program-program dari kepengurusan yang sebelumnya serta memperbanyak sinergi. Kepengurusan kali ini, berencana bukan saja belajar dan membawa pengalaman perkembangan ekonomi syariah di Inggris yang menjadi financial hub ekonomi syariah Eropa, namun juga melakukan "show case" praktik ekonomi syariah Indonesia kepada publik dan akademisi Inggris Raya.

Hal ini, kata Edi, akan dilakukan lewat "Indonesia conference on Islamic Economics and Finance" yang rencananya akan belangsung Juli mendatang bekerja sama dengan Durham Centre for Islamic Finance di bawah arahan Mehmet Asutay, guru besar di Durham University.

Dalam ulasan yang bertajuk “Islamic Finance in Britain, how to benefit from it and bring it to Indonesia”, Murniati menegaskan tiga hal yang dapat dipelajari dari geliat keuangan syariah di Inggris Raya, yaitu dari segi penegakan hukum, teknologi, dan pendidikan.

Dikatakan Murniati, bahwa penegakkan hukum di negara Theresa May ini sangat ketat. Ini karena, perangkat hukum dibuat secara jelas dan tegas. "Untuk keuangan syariah, rujukannya adalah UK financial services regulation yang tergabung dengan European Union financial directives dan Basel Capital Adequacy Standards," ujarnya dalam keterangannya yang dikirim kepada Republika.co.id, hari ini.

Adapun dari sisi teknologi, para instansi lembaga keuangan syariah di Inggris Raya mengadopsi teknologi yang cepat dan canggih yang mengarah ke “total paperless”. Para nasabah cukup puas dengan pelayanan yang diberikan walaupun ada beberapa hal yang masih menjadi kendala misalnya transaksi online pada hari libur yang masih dibatasi.

Dari segi pendidikan, kata dia, sudah banyak universitas yang mempunyai pusat ekonomi syariah atau menawarkan program studi keuangan syariah di tingkat S2 dan S3 atau kursus-kursus singkat. Banyak mahasiswa Indonesia yang berbondong-bondong ke Inggris Raya untuk melanjutkan studinya dalam bidang ekonomi syariah salah satunya adalah  karena karya-karya dosennya dikenal di level internasional serta promosi gencar ekonomi syariah di sana.

"Lembaga keuangan syariah di Indonesia sudah banyak berkembang dari sisi yang disebutkan di atas begitu juga perangkat pemerintah sudah banyak mendukung. Namun, tetap harus banyak belajar dari negara lain supaya dapat mempercepat pertumbuhannya," tutup Murniati.