Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Bank Syariah Kekurangan Manajemen Risiko

Selasa, 05 Maret 2013, 15:33 WIB
Komentar : 0
ANTARA
Bank Syariah/Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kurangnya manajemen risiko produk membuat bank syariah sulit bersaing. Menurut prediksi perusahaan konsultan Ernst & Young, sedikitnya keuangan syariah tumbuh 11 persen di 2013 menjadi lebih dari 2 triliun dolar AS.

Bank syariah memiliki rata-rata aset 17 miliar dolar AS pada 2011. "Biaya operasi sebagai proporsi kepemilikan 50 persen lebih tinggi," ujar Kepala Perbankan Syariah Global Ernst & Young, Ashar Nazim, seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (5/3).

Menurutnya sebagian besar bank syariah memiliki infrastruktur risiko mendasar. "Terlebih lagi bank syariah beroperasi di pasar domestik yang sangat kompetitif," ucapnya.

Managing Director Perusahaan Konsultasi Singapura Five Pilar Pte, Raj Mohammad mengatakan bank dipaksa lebih konservatif dalam investasi. "Ini dapat digunakan sebagai alat manajemen risiko," katanya.

Pertumbuhan yang lambat dapat meredam permintaan sukuk. Berdasarkan data yang dikumpulkan Bloomberg, penjualan sukuk turun 12 persen tahun ini menjadi 7 miliar dolar AS. Penerbitan mencapai rekor 46,4 miliar dolar AS pada 2012.

Pusat Perbankan dan Ekonomi Syariah AlHuda di Lahore, Pakistan, menyebut bulan lalu industri global kekurangan 50 ribu tenaga profesional. Pelaku industri lantas terpaksa membayar upah lebih tinggi demi menarik dan mempertahankan karyawannya.

Namun begitu, Ernst & Young memproyeksi perbankan syariah masih bisa tumbuh cepat dibandingkan sektor keuangan lain pada beberapa tahun mendatang. Perbankan syariah di Indonesia bisa berkembang lima kali lipat pada 2015. Sementara Turki dapat tumbuh tiga kali lipat pada dekade berikutnya.

"Pertumbuhan perbankan syariah masih akan melebihi konvensional, karena kesadaran masyarakat terus meningkat," ujar Mohammad.

Dia mengatakan saat ini masyarakat melihat keuangan syariah sebagai proposisi nilai bukan hanya sekadar pilihan agama. Profitabilitas di Asia Tenggara lebih jelas, di mana rasio antara laba dan ekuitas sebesar 14 persen untuk pemberi pinjaman syariah dan 19 persen untuk konvensional.

Ernst & Young membandingkan pemberi pinjaman konvensional dan syariah di 22 pasar perbankan syariah, diantaranya Malaysia, Indonesia, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Turki, Pakistan dan Bangladesh. Kepemilikan produk keuangan syariah membentuk 19 persen dari sistem perbankan Malaysia dan 4,2 persen di Indonesia.

"Hanya sekali pangsa pasar bank syariah dapat benar-benar bersaing dalam hal profitabilitas" ujar Direktur Keuangan Bank Muamalat Indonesia, Hendiarto Yogiono, beberapa waktu lalu. Pihaknya kini fokus memperluas bisnis pembiayaan yang pada akhirnya mampu meningkatkan profitabilitas sehingga  industri menjadi lebih matang.

Reporter : Qommarria Rostanti
Redaktur : Nidia Zuraya
1.026 reads
Hati orang yang sudah tua dapat menjadi lupa akan usianya bila ia terlalu mencintai hidup dan harta bendanya(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

Sukuk Teluk Diharap Tembus 35 Miliar Dolar AS