REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan masjid dalam mempromosikan keuangan syariah dinilai efektif. Pasalnya lokasi masjid sangat dekat dan mudah dijangkau masyarakat.
"Efektif karena jamaah langsung datang ke masjid," ujar Ketua Bidang Dakwah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Ahmad Yani, kepada ROL, Senin (4/3).
Kegiatan promosi dapat dilakukan antara lain dengan mendirikan Baitul Maal wa Tamwiil (BMT) di masjid-masjid. Ahmad menyebut saat ini di beberapa masjid di Indonesia sudah terdapat BMT, salah satunya di Masjid Al Musyawarah, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta. Di BMT tersebut jamaah dapat menabung dan mendapat pembiayaan. "Pembiayaan bisa mencapai Rp 50 juta," kata Ahmad.
Saat ini ada sekitar 250 ribu masjid dan 550 ribu mushalla di Indonesia. Lokasinya pun tersebar, baik di lingkungan tempat tinggal, perkantoran, hingga ke pasar tradisional. Melihat lokasinya yang strategis, Ahmad optimis jika BMT dikembangkan di masjid, khususnya yang berlokasi di pasar. Namun begitu menurutnya tetap dibutuhkan penyuluhan, baik pada masyarakat maupun sumber daya manusia (SDM) pengurus agar BMT berjalan optimal.
Ahmad berujar setiap masjid bisa didirikan BMT, asalkan tersedia tempat dan SDM. "Perlu memberi pemahaman kepada SDM akan arti pentingnya program ini," ucapnya.
Menurutnya sudah banyak kegiatan-kegiatan di luar peribadahan yang dilakukan di lingkungan masjid, misalnya bidang pendidikan dan usaha travel. Namun sayangnya belum banyak masjid yang mengembangkan perekonomian. Padahal, kata Ahmad, potensi ekonomi masjid cukup besar, contohnya menjelang Hari Raya Idul Adha. "Masjid bisa mengadakan program penggemukan hewan kurban," ujar Ahmad.
Perbedaan persepsi antara pengurus dan jamaah masih menjadi kendala dalam mengembangkan perekonomian di masjid. "Ada yang menganggap berdagang di masjid itu tidak boleh. Padahal sebenarnya tidak apa-apa, selama tidak dilakukan di dalam ruangan tempat shalat," kata Ahmad.