Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Di Indonesia, Ekonomi Kapitalis dan Liberalis Menjajah

Rabu, 12 Desember 2012, 09:13 WIB
Komentar : 0
aamslametrusydiana.blogspot.com
Ada lima hal penting dalam pengembangan ekonomi syariah. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Sumatera Utara, Gus Irawan Pasaribu mengatakan di Indonesia, sistem ekonomi kapitalis dan liberalis terus menjajah.

"Kapitalis itu yang besar makan yang kecil. Ini tantangan bagi kita umat Muslim. Kalaupun pemeritah kita sampai saat ini kurang kuat, kita harus bersatu padu untuk membut sistem syariah," kata Gus Irawan Pasaribu, ketika memberi kuliah umum di Pondok Pesantren Musthafawiyah di Desa Purba Baru, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Selasa (11/12).

Gus Irawan mengaku miris melihat sumber daya alam Sumut yang luar biasa, tapi tidak bisa berkembang untuk kemaslahatan umat. "Jika diterapkan sistem syariah, itu bisa lebih baik lagi," ucap dia.

Selain bersumber langsung dari Allah SWT, yakni Alquran dan hadist, sistem ekonomi syariah memiliki instrumen yang sangat lengkap. Salah satu instrumen tersebut melalui zakat yang bila dikelola secara baik dan profesional akan memberikan manfaat kepada umat baik disalurkan secara konsumtif maupun produktif.

Pada 2007, terinspirasi pemberdayaan ekonomi kecil, walaupun tidak ekonomi syariah, tapi ada sistem gotongroyong, Gus Irawan pernah mengajak seluruh karyawan Bank Sumut untuk berzakat.

"Pada waktu itu seluruh gaji karyawan saya potong. Saat itu ada 20 ribu karyawan, setahun bisa dapat terkumpul senilai lima miliar rupiah. Itu sangat luar biasa," katanya.

Dikatakannya, potensi zakat umat Islam di Indonesia bisa lebih banyak dari Rp 21 triliun per tahun. "Dengan jumlah dana seperti itu, tentunya sudah jutaan umat Islam yang akan tertolong," ujar Gatot.

Redaktur : Karta Raharja Ucu
2.419 reads
Jauhkanlah diri kamu daripada sangka (jahat) karena sangka (jahat) itu sedusta-dusta omongan, (hati)(HR Muttafaq Alaih )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...