Jumat, 10 Jumadil Awwal 1434 / 22 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Berapakah Harga Bawang Merah yang Pantas?

Selasa, 19 Maret 2013, 11:46 WIB
Komentar : 0
Wordpress.com
Bawang merah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga bawang merah yang tidak stabil kerap menimbulkan keengganan petani untuk bertanam. Hasil penelitian di Brebes pada tahun 2012 menunjukkan harga pokok bawang merah di tingkat petani sebesar Rp 3.792 per kilogram (kg).  Angka ini didapatkan pada biaya produksi sebesar Rp 49.298.000 dengan hasil produksi 13 ton.

Harga bawang kemudian mengalami peningkatan seiring jalur distribusi yang panjang. Di tingkat petani hingga eceran, margin yang diperoleh sebesar 53,3 persen. Sebelum sampai ke konsumen, harga bawang merah terus berlompatan mulai di tingkat produsen, pengecer dan pedagang.

"Penentu harga untuk konsumen berada di pasar induk dan lapak," ujar peneliti Muchijidin Rachmat dari Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Selasa (19/3).

Saat ini harga bawang merah kembali melonjak. Peneliti  kemudian membuat estimasi harga yang pantas untuk komoditas bawang merah. Perhitungan harga yang wajar dilakukan dengan membandingkan nilai tukar terhadap harga gabah.

Harga gabah saat ini mencapai Rp 3.600 per kg. Atas dasar nilai tukar biaya terhadap gabah, harga bawang merah yang pantas di tingkat petani sebesar Rp 10.170 per kg. Sedangkan di tingkat pengecer, harga bawang merah mencapai Rp 13 ribu per kg. Terakhir, di tingkat konsumen harga yang pantas untuk bawang merah mencapai Rp 14.900 per kg.

Sifat komoditi yang berumur pendek juga mempengaruhi harga bawang. Pada saat produksi tinggi, harga cenderung turun dan sebaliknya. Kenaikan harga saat ini dikatakan tidak dinikmati petani, karena petani bukanlah penentu harga bawang yang sesungguhnya.

Indikator harga bawang ini diharapkan bisa menjadi acuan pemerintah dalam menentukan harga yang cocok untuk petani, terutama pada pola kemitraan. Selain itu, diharapkan peran serta pemerintah untuk mengatasi fluktuasi harga bawang. Pada saat ketersediaan melimpah, pemerintah harus membeli bawang merah petani. Begitu juga pada kondisi harga tertinggi, pemerintah diharapkan untuk menyetop  impor. "Kelihatannya agak berat untuk pemerintah," ujar Muchjidin.

Distribusi juga menjadi salah satu penyebab fluktuasi harga bawang. Sebanyak 80 persen produksi bawang merah terdapat di pulau Jawa. Padahal permintaan bawang merata di seluruh daerah. Penelitian juga menunjukkan rendahnya produktifitas bawang merah rendah, hanya 9,91 ton per hektare (ha) dengan potensi produksi sebesar 20 ton per ha.

Reporter : Meiliani Fauziah
Redaktur : Nidia Zuraya
1.194 reads
Mimpi baik adalah dari Allah, sedangkan mimpi buruk adalah dari setan. Maka seandainya kalian mimpi buruk, meludahlah ke arah kiri dan berlindunglah kepada Allah, karena dengan demikian (mimpi buruk) itu tidak akan memerangkapnya(HR Bukhari)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Geliat Perkembangan Muslim Cina
Pemerintah Komunis berencana untuk membangun masjid di seluruh negeri. Hal ini, merupakan implementasi guna memenuhi tuntutan 20-an juta warga Muslim di negeri itu.Menurut...