Selasa , 20 May 2014, 21:52 WIB

Hadapi MEA, Pelaku UKM Perlu Kerja Sama

Rep: Friska Yolandha/ Red: Djibril Muhammad
blogspot.com
Masyarakat Ekonomi ASEAN
Masyarakat Ekonomi ASEAN

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tidak hanya partai politik, pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Indonesia perlu melakukan koalisi. Kerja sama yang baik antarpelaku UKM akan menguntungkan di tengah persiapan jelang kehadiran pasar bebas ASEAN pada 2015.
 
Pengamat pemasaran dari Prasetya Mulya Rudy Handoko mengatakan, masih banyak perusahaan dan pelaku usaha di Indonesia yang belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Padahal, waktunya kurang dari tujuh bulan lagi.

"Pelaku usaha cenderung melakukan bisnis as usual, tidak berpikir ke depan bagaimana menghadapi pasar bebas," ujar Rudy di Jakarta, Selasa (20/5).
 
Namun, tidak ada kata terlambat untuk mulai mempersiapkan diri. Perusahaan, khususnya pelaku UKM bisa menjalin kerja sama dalam berbagai hal untuk memperluas dan memperkuat jaringan di pasar domestik. Sesama pelaku usaha lokal jangan lagi dipandang sebagai pesaing, tetapi sebagai mitra untuk bersama memperkuat pasar.
 
Rudy menilai, selama ini pelaku pasar melihat pelaku usaha lain sebagai pesaing. Sehingga, mereka bekerja masing-masing yang pada akhirnya memperberat pekerjaan si pelaku usaha. Akan sangat efisien jika sesama pelaku usaha bekerja sama untuk menarik pasar nasional yang masih sangat luas.
 
Perusahaan besar bisa melakukan kerja sama dengan perusahaan yang lebih kecil. "Pelaku usaha UKM misalnya, memiliki jaringan ke daerah-daerah yang sangat jauh yang tidak dimiliki oleh perusahaan besar. Dengan begitu, keduanya akan sama-sama untung," ujar Rudy.
 
Direktur Dagang Kecil Menegah dan Produk Dalam Negeri Kementrian Perdagangan Suhanto mengatakan, ada banyak keuntungan yang didapat Indonesia setelah pasar bebas ASEAN.

Salah satunya adalah kemudahan melakukan ekspansi bagi perusahaan nasional ke negara-negara di ASEAN. Pasar bebas ASEAN menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa yang memiliki sumber daya melimpah ini.

"Jangan sampai Indonesia hanya menjadi target produk asing, melainkan juga menjadi produsen bagi Negara lain," kata Suhanto.
 
UKM merupakan pemain utama pelaku usaha di Indonesia. Dengan penetrasi hingga 98 persen, UMK diharapkan mampu memanfaatkan berbagai strategi dalam menghadapi MEA. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan merk untuk meningkatkan daya saing dan nilai jual.

Memang, kelemahan usaha di Indonesia adalah belum adanya kesadaran tentang pentingnya marketing. Sehingga kemampuan untuk bersaing di pasar ASEAN pun masih kecil.

"Oleh karena itu, Dirjen UMKM memiliki tugas untuk memberdayakan usaha di Indonesia dalam menciptakan produk yang berdaya saing," kata Suhanto.