Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Perajin Tempe Tuntut Kejelasan Tata Niaga Kedelai

Selasa, 19 Februari 2013, 14:58 WIB
Komentar : 0
Para pekerja mengolah kedelai untuk dibuat menjadi tempe di Utan Panjang, Jakarta, Kamis (31/1). (Republika/Aditya Pradana Putra)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perajin tahu tempe kembali menuntut pemerintah membereskan tata niaga kedelai. Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakopti) Aip Syarifudin meminta pemerintah mengatur agar harga kedelai tidak fluktuatif.

“Penanganan tata niaga kedelai sebagai komoditi strategis disamping beras dan gula ditangani oleh Bulog baik dari sisi pengadaan,distribusi maupun stabilisasi harga,” ujar Aip saat ditemui, Selasa (19/2).

Ia mengatakan perajin ingin bekerja sama dengan Bulog agar harga kedelai bisa stabil. Menurut dia, pemerintah harus memberi kesempatan bagi Bulog untuk mengimpor kedelai, dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan importir umum sehingga bisa berpeluang untuk menyetabilkan harga kedelai.

Kestabilan harga ini menurut dia sangat penting untuk kelangsungan usaha. Pasalnya, harga kedelai yang fluktuatif membuat perajin kerepotan menghitung biaya produksi. Ia mendesak agar peraturan presiden (perpres) dan peraturan menteri (permen) yang mengatur tentang mekanisme tata niaga dan kestabilan harga kedelai bisa segera diterbitkan.

Menurutnya, jika harga patokan kedelai ditentukan tiap bulan sudah cukup baik asalkan harga kedelai stabil, tidak berubah setiap hari. Ia berharap pada bulan Februari ini perpres sudah terbit. Jika tidak, mereka mengancam akan melakukan mogok produksi dan demo sampai tuntutan bisa dipenuhi.

Wakil Ketua Gakopti Rifai mengatakan masalah distribusi dan ketersediaan yang tidak beres ini membuat perajin serba sulit. Pasalnya, kata dia jika perajin menaikkan harga tempe atau mengecilkan ukuran akan diprotes konsumen. Sebaliknya, jika bertahan dengan ukuran tempe yang biasa, perajin kesulitan mempertahankan keuntungan.

Harga kedelai di tingkat distributor saat ini mencapai Rp 7.300 per kilogram (kg). Sampai di tingkat perajin sudah mencapai Rp 7.500 per kg. Idealnya, menurut dia harga kedelai di tingkat perajin sebesar Rp 7.000 per kg. “Fluktuasi harga begini sangat menyulitkan, mengubah ukuran mereka protes, kalau naikan harga mereka juga nggak mau,” ujarnya.

Reporter : Dwi Murdaningsih
Redaktur : Nidia Zuraya
670 reads
Sesungguhnya Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka. ((QS.Al-Baqarah [2]:119))
FOTO TERKAIT:
VIDEO TERKAIT:
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda