Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Harga Gabah Melonjak Dinilai Untungkan Petani

Kamis 11 Januari 2018 16:08 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nur Aini

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian kembali melakukan panen padi di Kabupaten Sleman.  Kali ini, panen padi dilakukan di Dusun Majasem, Desa Madureja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Kamis (11/1).

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian kembali melakukan panen padi di Kabupaten Sleman. Kali ini, panen padi dilakukan di Dusun Majasem, Desa Madureja, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Kamis (11/1).

Foto: Republika/Wahyu Suryana

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani saat ini mencapai Rp 5.500 per kilogram (kg). Harga tersebut dinilai menguntungkan bagi petani.

"Sekarang harga bagus wajarlah, karena kan petani juga berjuang hadapi cuaca, keluarkan biaya ekstra jaga serangan penyakit, harga bagus ya Alhamdulillah," ujar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan(KTNA) Winarno Thohir, Kamis (11/1).

Meski menguntungkan petani, harga itu tidakmenguntungkan bagi pedagang. Sebab dengan harga Rp 5.500 per kg GKP, tidak ada pedagang ataupun penggilingan yang tertarik menjual beras medium. Dengan harga GKP sekarang ini, sulit bagi pedagang menjual sesuai Harga Eceran Tertinggi beras medium yakni Rp 9.500 per kg.

Menurutnya, hal tersebut menyebabkan beras dengan kualitas medium berkurang. "Sangat berkurang sehingga pemerintah harus gelontorkan beras medium, tapi kan beras premium di pasaran banyak," katanya.

Menurutnya, banyaknya beras premium yang beredar di pasaran membuat harga beras dinilai tinggi. Hembusan akan dibukanya keran impor pun santerterdengar. Namun, berdasarkan adanya regulasi melalui Peraturan MenteriPerdagangan (Permendag) dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) dinilainya memaksa kedua kementerian tersebut untuk kompak memikirkan rakyat.

"Kalau Permendag, setiap lewati harga pasar salah satunya impor, tapi di Permentan setiap impor harus ada rekomendasi dari Kementan. Jadi harus kompak," katanya.

Apalagi, menurut Winarno, dalam waktu dekat akan terjadi panen raya pada Februari, Maret, hingga April yang membuat harga gabah tinggi di tingkat petani ini tidak akan bertahan lama. Bukan hanya itu, ada dua penyebab harga gabahj atuh lainnya yakni rendahnya penyerapan Bulog yang terbatas hanya 2,1 juta ton, padahal sebelumnya penyerapan mencapai 3,7 juta ton. Pengurangan ini karena pemerintah beralih dari kebijakan raskin ke Bantuan Nontunai.

Sedangkan yang kedua, pada Februari, Maret, dan April merupakan musim penghujan. "Walau kemampuan semua dryer dikerahkan, ini tetap tidak cukup hadapi panen raya makanya ini perlu dibicarakan sebetulnya. Makanya untuk jangka pendek jangan impor, " kata dia.

Baca juga: Ditanya Soal Harga Beras Naik, Mentan: Produksinya Surplus

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES