Friday, 10 Ramadhan 1439 / 25 May 2018

Friday, 10 Ramadhan 1439 / 25 May 2018

Tolak Impor, Petani Takut Harga Gabah Jatuh

Rabu 10 January 2018 21:36 WIB

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Budi Raharjo

Warga menjemur gabah di tempat penggilingan padi. (ilustrasi)

Warga menjemur gabah di tempat penggilingan padi. (ilustrasi)

Foto: Anis Efizudin/Antara

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) menolak wacana impor beras yang sedang mencuat. Ketua Umum KTNA Winarno Thohir mengatakan, petani tak menginginkan impor karena langkah itu dapat membuat harga gabah jatuh.

"Kalau impor itu, baru 'akan' saja, harga sudah jatuh," ujarnya, saat dihubungi Republika, Rabu (10/1).

Winarno tak memungkiri, tingginya harga beras saat ini memang menjadi berkah bagi petani. Sebab, Gabah Kering Panen (GKP) yang diproduksi petani kini dihargai Rp 5.500 per kilogram di pasar umum. Jauh lebih tinggi dibanding harga pemerintah, yakni Rp 3.700 per kilogram.

Namun begitu, menurut dia, kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama. Sebab, ia memperkirakan pada Februari mendatang, banyak lahan padi yang akan memasuki masa panen. Begitu panen tiba, maka harga pun akan kembali turun.

Selama menunggu masa panen tersebut, Winarno memandang opsi impor bukan pilihan terbaik. Sebab, Perum Bulog, sebagai kepanjangan tangan pemerintah, juga masih memiliki stok beras untuk memenuhi kekurangan produksi.

"Memang perannya Bulog kan di situ, untuk menjadi stabilisator. Jadi sudah betul kalau pemerintah bilang tidak impor. Kecuali kalau panen raya masih lama. Ini kan sudah dekat," ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES