Rabu , 03 Januari 2018, 16:12 WIB

Bulog Siap Beli Bawang Merah Petani Rp 15 Ribu per Kg

Red: Nidia Zuraya
Wordpress.com
Bawang merah (ilustrasi)
Bawang merah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan telah sepakat untuk menugaskan Bulog menyerap bawang merah seharga Rp 15 ribu per kilogram (kg) guna mengatasi anjloknya komoditas tersebut di Brebes, Jawa Tengah.

Dalam Rapat Koordinasi Gabungan Ketahanan Pangan dan Evaluasi Upaya Khusus (Upsus) 2017 di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu, Amran mengatakan Kementerian BUMN dan Kementerian Perdagangan sepakat agar Bulog bisa menekan harga bawang yang anjlok hingga 70 persen ke level Rp 4.000 per kilogram.

"Kami sepakat Bulog menyerap harga Rp 15 ribu. Berapa pun diserap, sudah dengan Menteri BUMN sepakat menyerap sampai harga netral karena itu perintah Presiden," kata Amran.

Dalam pemaparannya, Amran memaparkan keberhasilan pemerintah mewujudkan swasembada untuk sejumlah komoditas pada 2017, yakni beras, bawang merah, jagung dan cabai sudah bisa swasembada. Indonesia berhasil mengurangi, bahkan menghentikan impor bawang merah, yakni dari 2014 sebanyak 72 ribu ton, 2015 sebanyak 12 ribu ton, 2016 berhenti impor dan ekspor ke enam negara, salah satunya Thailand pada 2017.

Namun demikian, keberhasilan tersebut nyatanya tidak sejalan dengan petani bawang merah di Brebes yang mengalami anjloknya harga hingga 70 persen menjadi Rp 4.000 dari yang seharusnya Rp 15 ribu. "Harga bawang merah di Brebes, Rp 4.000 turun 70 persen dari standar yang seharusnya. Kami akan laporkan ke Presiden karena ini sama saja mematikan petani," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengadaan Bulog Andrianto Wahyu Adi belum menyatakan kesiapannya untuk menyerap dengan harga Rp 15 ribu per kilogram. Menurut dia, serapan bawang merah akan dilakukan dengan kerangka komersial atau mempertimbangkan keuntungan perusahaan.

"Bawang kami beri dengan kerangka komersial. Bawang itu mutarnya cepat, kalau kami beli, tapi tidak bisa kami jual, terpaksa kami buang, kami tidak ingin itu terjadi, harus balancing lah," kata Andrianto.

Sumber : Antara