Senin , 18 Desember 2017, 20:02 WIB

Ekonom Nilai Target Pertumbuhan Ekonomi 2018 Terlalu Tinggi

Rep: Ahmad fikri noor/ Red: Dwi Murdaningsih
Republika/Prayogi
Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi)
Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Ekonomi dari Universitas Gajah Mada Tony Prasetiantono menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 terlalu tinggi. Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sesuai APBN 2018 sebesar 5,4 persen. Tony menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai level 5,3 persen.

"Saya tidak seoptimis pemerintah karena masih banyak ketidakpastian yang akan dihadapi," ujar Tony di Jakarta, Senin (18/12).

Ia mengatakan, faktor eksternal bisa menjadi faktor negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia mencontohkan, kebijakan AS yang akan menaikkan suku bunga akan mempengaruhi perekonomian Indonesia.

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia juga masih bergantung pada harga komoditas. Ia menjelaskan, neraca perdagangan bisa mencatatkan surplus jika harga komoditas baik. Akan tetapi, sebaliknya, ketika harga komoditas turun, neraca perdagangan bisa defisit.

"Itu faktor yang menurut saya tidak bisa kita kendalikan," ujar Tony.

Meski begitu, menurut Tony, saat ini terdapat perkembangan positif dalam impor barang modal. Peningkatan impor barang modal, ujarnya, menunjukkan peningkatan investasi. Ia meyakini hal itu akan menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, Tony mengaku, saat ini Indonesia belum bisa menikmati dampak dari proyek-proyek infrastruktur yang saat ini sedang digalakkan.

"Kalau saat ini kita lebih baik fokus neraca perdagangan surplus lalu pertumbuhan ekonomi trennya harus positif," ujar Tony.

Ia mengaku, pertumbuhan ekonomi Indonesia baru akan melesat setelah proyek-proyek infrastruktur selesai dibangun.

"Mungkin sesudah 2019 baru bisa lari. Tahun depan (pertumbuhan ekonomi) mungkin 5,3 persen, tahun depannya lagi mungkin masih kepala lima, baru setelah itu baru kepala enam," ujar Tony.