Senin , 04 Desember 2017, 13:21 WIB

Divestasi Saham Freeport Terganjal Perusahaan Rio Tinto

Red: Nur Aini
Antara/Jeremias Rahadat
Sejumlah kendaraan yang mengangkut karyawan PT Freeport melakukan konvoi ketika meninggalkan terminal Gorong-gorong di Timika, Mimika, Papua, Kamis (16/11).
Sejumlah kendaraan yang mengangkut karyawan PT Freeport melakukan konvoi ketika meninggalkan terminal Gorong-gorong di Timika, Mimika, Papua, Kamis (16/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Negosiasi untuk divestasi saham PT Freeport Indonesia (PTFI) menemui kendala baru yakni adanya perusahaan tambang asal Australia, Rio Tinto. Perusahaan ini tercatat memiliki hak partisipasi (participation interest/PI) dalam pengoperasian PTFI.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno menjelaskan saat ini pemerintah dan Freeport sedang membahas bagaimana penyelesaian divestasi saham dengan Rio Tinto. Karena masih melakukan pembahasan terkait hal ini, Harry mengatakan pembahasan divestasi yang semestinya bisa selesai cepat, jadi mundur hingga akhir tahun ini.
 
"Rio tinto punya participation interest. Nah itu yang lagi dirundingkan, penyelesaiannya gimana, bentuknya gimana. itu yang kenapa kita agak mundur," ujar Harry di Kantor Kementerian BUMN, Senin (4/12).
 
Rio Tinto merupakan perusahaan tambang asal Australia yang memiliki participation interest terhadap Freeport Indonesia sebanyak 40 persen. Freeport Indonesia dan Rio Tinto mempunyai kesepakatan pada tahun 1990-an. Keduanya memiliki perjanjian mengenai pendanaan dan pengoperasian hingga 2021.
 
Harry mengatakan saat ini sudah ada tim di bawah kementerian BUMN dan kementerian Keuangan yang membahas persoalan Rio Tinto. Targetnya, pembahasan soal Rio Tinto dan skema divestasi bisa selesai akhir tahun nanti.
 
"Saya belum bisa menjelaskan secara rinci, karena masih pembahasan. Tapi pembahasan saya kira bisa selesai segera. Jadi 2018 kita bisa lakukan divestasi," ujar Harry.
 

 

Sumber : Antara