Rabu , 15 November 2017, 15:18 WIB

Diversifikasi Pangan di Sulawesi Selatan Diperluas

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nur Aini
Fabriawan Abhe/Antara
Petani mengumpulkan jagung hasil panennya di Desa Loka Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Senin (6/3). Sebagian petani di daerah tersebut memanen jagung untuk bahan pakan ternak ayam yang dijual seharga Rp2.500 per kilogram.
Petani mengumpulkan jagung hasil panennya di Desa Loka Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Senin (6/3). Sebagian petani di daerah tersebut memanen jagung untuk bahan pakan ternak ayam yang dijual seharga Rp2.500 per kilogram.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Sebanyak empat kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel) telah menerapkan diversifikasi pangan. Empat kabupaten tersebut yakni Luwu, Lalopo, serta Luwu Utara dan Luwu Timur yang sering disebut Luwu Raya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel Fitriani mengatakan, kabupaten tersebut memiliki pangan lokal yang berasal dari sagu yakni kapurung.

"Jadi sagu, sayur, ikan, tidak lagi dengan beras. Itu makaanan pokok masyarakat situ," ujarnya tengah pekan ini saat ditemui di Makassar.

Dengan begitu, ia optimis diversifikasi pangan yang dilakukan Luwu Raya akan menyebar ke kabupaten/kota lain. Contohnya Jeneponto yang merupakan sentra jagung. Kabupaten lainnya juga akan terus didorong membangun pangan lokalnya.

Menurutnya, diversifikasi pangan ini akan berdampak lebih baik terhadap kesehatan masyarakat. Pada 2018, Sulsel akan melakukan sosialisasi diversifikasi pangan dengan pemanfaatan pangan lokal. Hal ini agar ada substitusi pangan. Masyarakat tidak hanya mengkonsumsi karbohidrat terus menerus, tapi juga gizi pangan lain seperti protein, lemak, dan lainnya.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendridi mengatakan, diversifikasi pangan kembali dibangkitkan secara nasional Oktober lalu. Diversifikasi pangan bukan lagi menjadi gerakan semata melainkan program yang harus dijalankan semua provinsi. "Tahun depan akan kita kerjakan di 18 provinsi. Nah apa yang mau kita angkat, adalah kekayaan pangan lokal kita," katanya.

Program diversifikasi pangan akan dimulai dari hilirisasi pengolah hingga penyajiannya atau dengan istilah lain from farm to table. "Itu kita buat ready to consume, kita mau dorong supaya masyarakat terbiasa, setelah itu baru tahun berikutnya masuk ke sistem produksinya, mulai dari budidayanya tahun berikutnya," ujar dia.