Selasa , 14 November 2017, 02:21 WIB

Daya Beli Masyarakat Indonesia Melemah

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Ani Nursalikah
Republika/Putra M. Akbar
Pengunjung memilih pakaian di Lotus Department Store di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (26/10).
Pengunjung memilih pakaian di Lotus Department Store di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (26/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC) Eric Sugandi menilai pelemahan daya beli sedang terjadi di masyarakat, terutama di kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Hal itu didukung oleh sejumlah data survei dari beberapa institusi.

Eric mengakui, terdapat faktor musiman dari momentum Lebaran yang terjadi pada kuartal kedua 2017. Hal itu pun menyebabkan konsumsi yang lebih besar dibandingkan kuartal-kuartal lainnya.

"Tentu memang ada pengaruh. Tapi terlepas dari faktor musiman itu, memang ada pelemahan daya beli kelas menengah ke bawah yang berpengaruh pada tertekannya pertumbuhan konsumsi di triwulan ketiga 2017. Sementara kelas menengah dan atas masih cenderung menahan konsumsi mereka," kata Eric ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (13/11).

Eric mengaku, meski tertekan, konsumsi tetap menjadi mesin utama pertumbuhan pada kuartal ketiga 2017. Ia menjelaskan, indikator pelemahan daya beli tersebut salah satunya nampak dari perlambatan pertumbuhan ritel.

Survei AC Nielsen yang dirilis pada awal November 2017 juga menunjukkan ada pelemahan daya beli kelas menengah ke bawah. "Survei penjualan ritel menurut Bank Indonesia juga belum menunjukkan pertumbuhan penjualan yang ajeg," kata Eric.

Eric mengatakan pemerintah perlu menghindari kebijakan menaikkan harga-harga yang diatur pemerintah, seperti Tarif Dasar Listrik (TDL) dan harga BBM. Hal itu menurutnya, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan daya beli masyarakat.

"Selain itu, segera kucurkan dana desa, dan segera laksanakan program-program padat karya yang disampaikan pemerintah," ujar Eric.