Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Wednesday, 5 Jumadil Akhir 1439 / 21 February 2018

Kadin Bali Tolak Bisnis Asusila Masuk Pulau Dewata

Jumat 03 November 2017 11:56 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Nidia Zuraya

Gedung Hotel Alexis, Jakarta, yang disinyalir sebagai tempat prostitusi terselubung. .

Gedung Hotel Alexis, Jakarta, yang disinyalir sebagai tempat prostitusi terselubung. .

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Bisnis hotel dan griya pijat Alexis Group terancam gulung tikar setelah pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memperpanjang izin usahanya. Meski pihak perusahaan mengklaim tidak pernah melakukan pelanggaran terkait narkoba dan asusila, namun Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengaku mengantongi sederet laporan tentang Alexis dan hotel-hotel lain yang bermasalah.

Penutupan Alexis berujung pada kekhawatiran pengusaha-pengusaha hiburan malam akan kelanjutan bisnis mereka di ibu kota. Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta bahkan berencana memindahkan usaha ke Bali.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Provinsi Bali, Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra dengan tegas menolak bisnis prostitusi terselubung berkedok tempat hiburan masuk ke Pulau Dewata. Tempat-tempat hiburan malam di Bali jumlahnya memang banyak, namun tetap memberlakukan batasan.

"Pariwisata di Bali ini kan pariwisata budaya, sehingga prostitusi terselubung berkedok hiburan malam seperti itu tidak diterima di sini. Salah sasaran jika mereka ingin pindah ke Bali," kata Alit Wiraputra kepada Republika, Jumat (3/11).

Prostitusi terselubung ala Alexis, sebut Alit Wiraputra jika terbukti benar sama sekali tidak diminati turis-turis di Bali. Ini karena tujuan utama wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Bali adalah berwisata.

Ada 142 obyek wisata di Bali. Alit Wiraputra mencontohkan wisman yang menetap sepekan masih belum tentu bisa mengunjungi keseluruhan obyek. Jadi, perpindahan bisnis esek-esek dari Jakarta ke Bali hanya akan membuang waktu wisatawan dan menodai budaya Bali yang berlandaskan falsafah Tri Hita Karana.

Alit Wiraputra mengakui pertumbuhan bisnis tempat hiburan di Bali cukup tinggi, rata-rata 12 persen per tahun. Bentuknya mulai dari restoran, pub, bar dan klub, diskotek, tempat karaoke, namun tidak ada yang melayani aktivitas prostitusi.

"Karaoke pun turis asing tidak suka. Cuma orang Indonesia yang suka ke tempat karaoke. Turis asing paling suka ke bar dan klub, namun sebatas minum dan dance," kata Alit Wiraputra.

Aktivitas hiburan malam yang paling disukai wisman di Bali adalah makan malam (dinner) dan pesta di klub (club party). Setidaknya ada 13 bar tempat hiburan malam populer di Bali, antara lain Puri Santrian Bar, Mirror Lounge and Bar, The Bush Telegraph Pub, Double Six Club, La Favela, Temple Lounge & Bar, dan The Bamboo Bar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pemprov DKI Jakarta akan Tambah Jalur Sepeda

Selasa , 20 February 2018, 20:09 WIB