Rabu , 01 November 2017, 03:15 WIB

Kinerja Pasar Modal Moncer, Ini Penyebabnya Versi OJK

Red: Nur Aini
Republika/Yasin Habibi
Layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Selasa (3/10).
Layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Selasa (3/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai secara umum kinerja industri pasar modal domestik sepanjang tahun ini mencatatkan penguatan dengan volatilitas yang relatif rendah.

"Memasuki akhir Oktober 2017 IHSG telah tumbuh sebesar 12,81 persen (year to date). Bahkan pada penutupan pasar tanggal 25 Oktober 2017, IHSG mencatatkan rekor baru tertinggi sepanjang sejarah, yakni ditutup pada posisi 6.025 poin," kata Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK, Fakhri Hilmi di Jakarta, Selasa (31/10).

Penguatan itu, kata dia, terutama ditopang oleh masuknya investor domestik ke pasar modal, di tengah kecenderungan jual oleh investor asing akibat dipengaruhi ketidakpastian global. "Kondisi fundamental emiten yang membukukan kenaikan kinerja, mendorong aktivitas investor domestik," ujarnya.

Sementara itu, kata dia, penghimpunan dana oleh korporasi melalui pasar modal pada triwulan ketiga 2017 juga menunjukkan peningkatan sebesar 63,3 persen menjadi Rp188 triliun. Peningkatan itu terutama didorong oleh penghimpunan dana yang dilakukan oleh lembaga jasa keuangan untuk membiayai modal kerja.

Ia menambahkan bahwa optimisme positif juga ditunjukkan industri reksa dana di mana pada kuartal ketiga 2017 mencatatkan nilai aktiva bersih (NAB) naik 8,15 persen menjadi Rp 414 triliun (quarter to quarter). Selain itu jumlah produk reksa dana serta unit penyertaannya juga mengalami tren yang meningkat.

Mengenai tantangan ekonomi serta industri keuangan nasional ke depan, Fakhri Hilmi mengatakan bahwa pihaknya melihat ada beberapa hal yang diperkirakan masih akan dihadapi pada tahun 2018 dan perlu terus dicermati, yakni ketidakpastian kebijakan ekonomi dan politik global yang terpantau tinggi hingga akhir tahun 2017. "Itu mempersempit ruang kebijakan yang dapat diambil oleh negara-negara berkembang, khususnya di sektor keuangan," katanya.

Ia mengatakan pemulihan ekonomi domestik diperkirakan mengalami hambatan, yang dipicu oleh stagnasi harga komoditas global hingga beberapa tahun ke depan. Selain itu, normalisasi kebijakan moneter negara maju, khususnya Amerika Serikat dimana the Fed diperkirakan menaikkan kembali suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR).

Namun demikian, ia mengatakan bahwa di tengah berbagai peluang dan tantangan yang masih akan dihadapi pada tahun 2018 mendatang, OJK memperkirakan pertumbuhan ekonomi domestik akan terus meningkat, sejalan dengan indikator sektor riil yang berada pada "picking up trend".

"Hal itu didukung oleh perkiraan berbagai organisasi internasional yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 akan berada di kisaran 5,2 persen hingga 5,3 persen, sementara tingkat inflasi akan berkisar 3,8 persen hingga 4,5 persen," ujarnya.

Sumber : Antara