Selasa , 31 Oktober 2017, 16:44 WIB

Bisnis Ritel Berguguran, Begini Nasib Alun Alun Indonesia

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Nidia Zuraya
Republika/Indira Rezkisari
Gerai Embun Kids di bazar Canda Warna Galeri Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia, Jakpus.
Gerai Embun Kids di bazar Canda Warna Galeri Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia, Jakpus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alun Alun Indonesia genap berusia 10 tahun tepat di hari ini. Dalam usia tergolong muda, Alun-alun Indonesia berhasil membangun brand sebagai gerai produk kreatif terlengkap.

Maraknya suasana gerai yang tutup di luar maupun dalam negeri, kinerja Alun Alun Indonesia tetap stabil dan eksis bersaing di zaman belanja online ini.

Kehadiran Alun Alun Indonesia tidak terlepas dari upaya mewujudkan visi sang founder, Itjih Nursalim. Potensi industri kreatif Indonesia begitu kaya dan bernilai tinggi, oleh karena itu perlu dihadirkan dalam konsep baru.

Gerai yang berada di bawah group ritel PT Panen Lestari Internusa dan MAP (PT Mitra Adiperkasa) ini berokasi di Lantai 3 Pusat Belanja Grand Indonesia. Selain belanja, gerai ini juga memberikan pengalaman yang berharga, belajar dan bernostalgia hal-hal tradisional dari budaya dan kuliner Indonesia.

Menjadikan pengalaman pengunjung sebagai daya tarik adalah salah satu ciri khas Alun Alun Indonesia. Managing Director, PT Panen Lestari Internusa dan komisaris PT MAP, Handaka Santosa menyampaikan cita-cita pendiri Alun Alun Indonesia bisa menjadi contoh kontribusi swasta yang nyata untuk industri kreatif Indonesia dari Indonesia untuk Indonesia.

"Sesuai namanya, Alun Alun, gerai ini dikembangkan untuk menjadi pusat kegiatan kreatif yang berada di tengah kota dan menjadi jendela Indonesia untuk dapat mengalami (experience) dari produk kreatif Indonesia," ujarnya di Perayaan ulang tahun Alun-Alun Indonesia ke-10, Selasa (31/10).

Karena itulah tambahnya, dalam pengembangannya pihak perusahaan selalu bersama-sama dengan berbagai komunitas kreatif mendukung kebijakan pemerintah untuk mendorong perkembangan ekonomi kreatif.

Untuk menjaga citra produk kreatif Indonesia, Alun Alun melakukan seleksi ketat kepada setiap vendor. Mereka dipilih melalui suatu proses kurasi, bimbingan perihal mutu, desain dan display. Pilihan produk berdasarkan prinsip berbasis tradisional dengan jiwa kontemporer, dan semboyan yang digunakan di Alun Alun Indonesia adalah Inspiring Innovations menginspirasi inovasi.

CEO PT Alun Alun Indonesia Pincky Sudarman mengakui, sebagai konsep baru, tidak mudah untuk membangun Alun Alun Indonesia. Dukungan founder sangat membantu dalam mengatasi berbagai kendala sehingga kinerja gerai kini bisa stabil.

Alun Alun Indonesia adalah konsep baru dalam gerai produk kreatif, yang masih perlu pembuktian pada periode awal. "Karena itu dukungan founder menjadi kunci. Setelah proof of concept atau konsep ternyata bisa dikembangkan, pada akhirnya gerai bisa beroperasi secara berkelanjutan," ujar Pincky dalam keterangan pers tertulis, Selasa (31/10).

Berbagai cara dilakukan untuk menarik crowd kunjungan ke Alun Alun. Daya tarik lain dari Alun Alun adalah kuliner Indonesia yang disajikan dengan keberadaan dua tempat kuliner Warung Kopi yang menyediakan makanan-makanan ala warung kopi dan Palalada yang merupakan restoran dengan menu yang berbasis tradisional tetapi disajikan secara kontemporer.

Alun Alun Indonesia juga telah menjadi salah satu distinasi wisatawan manca negara untuk melihat keragaman produk budaya Indonesia. Masyarakat umum juga dapat berkunjung yang datang untuk belanja oleh-oleh unik atau untuk nongkrong di Warung Kopi dengan suasananya yang rileks dan bersahabat untuk menikmati secangkir kopi dan sepotong singkong atau pisang goreng.

Alun-Alun mempunyai brand yang dikenal di dalam maupun luar negeri. Contohnya banyak mulai dari desainer fesyen seperti Carmanita dan Natalia Liu, pembuat tas terkenal yang digunakan oleh bintang Hollywood seperti Bagteria dan aksesories seperti Runi Palar.

Jumlah vendor meningkat rata-rata lebih dari lima kali lipat dalam 10 tahun, dari 82 vendor di 2007 menjadi 540 vendor saat ini. Fashion designer misalnya, pada 2007 baru 7 vendor, kini jumlahnya sudah 85 vendor.

Fesyen anak muda dari 44 vendor, kini sudah 112 vendor. Musik yang dulu hanya satu vendor, kini 33 vendor, cendera mata dari 24 vendor menjadi 52 vendor dan oleh-oleh makanan dari 44 menjadi 83 vendor.

Dalam rangka ulang tahun, Alun Alun Indonesia akan memberikan penghargaan kepada 10 vendor terbaik yang konsisten mendukung Alun Alun. Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang hadir dalam acara Ulang Tahun 10 ini memberi apresiasi atas kinerja yang dicapai Alun Alun Indonesia.

Mari Elka Pangestu menilai, gerai ini bisa bertahan bisa eksis dan bersaing dalam era transformasi karena Alun Alun Indonesia bukan sekedar tempat belanja ritel. Hasilnya nyata bagaimana industri kreatif dan orang kreatif bisa berkembang, terus berinovasi dan terus ada kreasi baru.

"Ke depan, tentunya juga perlu dipikirkan bagaimana menghadapi era transformasi dengan mempelajari penjualan online, namun tentu tidak meninggalkan visi founder-nya," ujar Mari Pangestu.

Berita Terkait