Senin , 30 October 2017, 17:02 WIB

Resi Gudang di Jabar Banyak yang tak Aktif

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Elba Damhuri
Inflasi (ilustrasi)
Inflasi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Resi gudang sangat efektif untuk menstabilkan harga dan menjaga inflasi. Namun, menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Wiwiek Sisto Widayat, resi gudang ini sangat penting untuk menstabilkan harga terutama beras.

"Di Jabar ada 13 resi gudang tapi yang aktif hanya satu di Cianjur," ujar Wiwiek kepada wartawan usai acara Forum Pengendalian Inflasi Jabar, di Gedung Sate, (30/10).

Menurut Wiwiek, resi gudang ini tak hanya berfungsi untuk menstabilisasi harga komoditas beras. Namun, bisa mengendalikan harga kebutuhan pokok lainnya seperti cabai dan lain-lain.

"Kami menargetkan, tahun ini ada empat kabupaten yang kami dorong untuk kembali mengaktifkan resi gudang ini," katanya.

Keempat kabupaten itu, menurut Wiwiek adalah Cianjur, Sukabumi, Indramayu, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Semua daerah itu terus dilakukan penjajakan agar mau mengaktifkan kembali resi gudang.

"Satu lagi, yang kami dorong adalah Sukabumi. Jadi harapannya nanti ada lima sampai enam resi gudang yang aktif untuk menstabilikan harga," katanya.

Wiwiek menjelaskan, di daerah yang resi gudangnya aktif seperti Cianjur, petani pun cukup terbantu ketika ingin mendapatkan dana. Karena, dalam waktu satu jam saja petani bisa menjual berasnya dan langsung mendapatkan dana.

Masih minimnya resi gudang yang aktif di Jabar terjadi karena terkendala beberapa hal. Di antaranya, kurangnya komunikasi dan sinergi antara pemerintah daerah, petani, perbankan, marketing dan pembelinya.

"Di Cirebon antara masyarakat, petani dan Pemdanya belum jalan. Padahal, resi gudang sudah siap, bank juga sudah siap tapi karena tidak ada dukungan tidak jalan," kata Wiwiek.

Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan (Aher) mengatakan ia menggelar rapat pengendalian inflasi ini untuk memantau inflasi yang ada di kabupaten/kota. Menurut Aher, Jabar sangat menjaga inflasi karena kalau sampai tinggi harga-harga akan mahal. Sehingga, bisa memberatkan daya beli di masyarakat.

"Kami selalu menjaga, agar hargastabil. Terutama, jangan sampai harga beras bergejolak. Kalau sampai harga beras bergejolak pasti ada apa-apa," katanya.

Terkait inflasi, Wiwiek mengatakan, ia menargetkan hingga akhir tahun inflasi di Jabar bisa 3,4 plus minus satu. Wiwiek memprediksi pada Oktober akan rendah. Begitu juga, di November rendah.