Jumat , 13 Oktober 2017, 16:51 WIB

Potensi Perikanan Jawa Barat tak Dimanfaatkan Maksimal

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Nur Aini
Dedhez Anggara/Antara
Nelayan menyiapkan perbekalan untuk melaut di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (27/9). Kementerian Kelautan dan Perikanan mengupayakan jaminan ketersediaan pasokan BBM nelayan dengan meminta Pertamina membangun Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) di setiap pelabuhan perikanan yang ada di Indonesia.
Nelayan menyiapkan perbekalan untuk melaut di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (27/9). Kementerian Kelautan dan Perikanan mengupayakan jaminan ketersediaan pasokan BBM nelayan dengan meminta Pertamina membangun Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) di setiap pelabuhan perikanan yang ada di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG -- Provinsi Jawa Barat, memiliki potensi yang cukup besar. Dari 27 kabupaten/kota di Jabar, terdapat 11 kabupaten/kota yang memiliki pesisir pantai, dengan panjang 842 kilometer yang memiliki potensi perikanan tangkap yang sangat besar. Namun, menurut Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, saat ini potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pada 2016, produksi perikanan tangkap Jabar sebesar 276 ribu ton atau meningkat sekitar 1,95 persen dari 2015. "Akan tetapi itu baru sekitar 13,35 persen dari potensi perikanan tangkap yang ada di wilayah pengelolaan perikanan yang dimanfaatkan," ujar Deddy Mizwar yang akrab Demiz kepada wartawan, Jumat (13/10).

Demiz mengatakan, kondisi tersebut terjadi karena masih adanya beberapa permasalahan yang dihadapi para nelayan. Hal itu terutama, menyangkut pengelolaan yang masih tradisional, lemahnya akses permodalan, serta sarana dan prasarana yang belum memadai. Armada perikanan yang masih didominasi ukuran kecil, bahkan dari 18.231 unit kapal perikanan, sebanyak 16.827 unit atau 92,2 persen di antaranya berukuran kecil.

Selain itu, kata dia, dari aspek legalitas masih banyak kapal perikanan yang belum berizin atau terdaftar. Sehingga, Pemprov Jabar juga saar ini terus berupaya meningkatkan pelayanan perizinan dengan membuka gerai-gerai pelayanan perizinan di beberapa tempat strategis. "Kita juga adakan pelayanan jemput bola dengan menempatkan mobil pelayanan di sentra-sentra nelayanan secara terjadwal, dan juga penerapan sistem perizinan online," katanya.

Pemprov Jabar pun, kata dia, mendorong sebanyak 100 ribuan masyarakat Jabar yang berprofesi sebagai nelayan, Demiz mampu meningkatkan produksinya untuk meningkatkan kesejahteraannya serta, terus mendorong upaya penyejahteraan nelayan. Salah satunya adalah dengan pembangunan 84 pelabuhan perikanan di Jabar yang menjadi tempat penjualan ikan langsung oleh nelayan. Saat ini baru 16 yang sudah mulai di bangun, dan sisanya akan segera dibangun dalma waktu dekat. "Kami harus optimis, kalau bohong kita tagih janjinya, dalam waktu tiga tahun terlihat, dengan gerakan 'radikal' kementerian kelautan, kita merasakan (perubahan)," katanya.

Selain itu juga, Demiz mengimbau kepada seluruh nelayan di Jabar untuk mengikuti program pemerintah. Salah satunya dengan membuat kartu nelayan yang sedikitnya mampu membantu masyarakat melalui jaminan keselamatan dan juga bantuan peralatan aktifitas mencari ikan.

"Kita punya 100 ribu nelayan, tapi 57 ribu nelayan yang punya kartu nelayan, untuk menjamin (keluarga nelayan) setidaknya sedia payung sebelum hujan," katanya.