Kamis , 12 Oktober 2017, 10:11 WIB

Bawang Merah Organik Pembuka Pintu Ekspor ke Timor Leste

Red: Gita Amanda
Humas Kementan
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Ani Andayani yang juga sebagai Penanggung Jawab Upaya Khusus (UPSUS) Pajale (Padi, Jagung, Kedelai) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Ani Andayani yang juga sebagai Penanggung Jawab Upaya Khusus (UPSUS) Pajale (Padi, Jagung, Kedelai) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

REPUBLIKA.CO.ID, ATAMBUA -- Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Ani Andayani yang juga sebagai Penanggung Jawab Upaya Khusus (UPSUS) Pajale (Padi, Jagung, Kedelai) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menyampaikan bawang merah organik menjadi pembuka pintu ekspor ke Timor Leste. Hal tersebut disampaikan kepada media, disela-sela persiapan ekspor bawang merah, Kamis (12/10).

"Rencana ekspor ke Timor Leste, sudah dipersiapkan dengan memenuhi semua dokumen ekspor dan impor," ujarnya.

Berkaitan dengan ekspor ke Timor Leste, dari Pintu Perbatasan Mota Masin, Kabupaten Malaka, direncanakan akan dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Veteriner, Republik Demokratik Timor Leste serta beberapa pejabat dan anggota parlemen, Menteri Pertanian diwakili Staf Ahli bidang Infrastruktur, Ani Andayani serta beberapa pejabat eselon I dan II lingkup kementerian pertanian dan jajaran pejabat Provinsi NTT dan Kabupaten.

"Indonesia akan mengoptimalkan sisi perbatasan wilayah Republik Indonesia dengan Negara Tetangga seperti, Timor Leste, Malaysia, Brunei, Papua Nugini dan Singapura, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dari batas negeri,  seperti amanat Nawa Cita Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla," kata Ani.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menurut Ani Andayani, telah menetapkan Program Membangun Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor diperbatasan seperti NusaTenggara Timur, Sumatera, Maluku dan Kalimantan.

Luas areal tanaman bawang merah, Provinsi NTT 1.231 hektare pada 2016 naik 22,5 persen dari target. Sedangkan di Kabupaten Malaka saat ini memiliki 200 hektare tanaman bawang merah dari potensi 3.000 hingga 4.000, hektare areal tanaman bawang. Dengan rata-rata produktivitas 16 ton per hektare, yang akan memasok kebutuhan Timor Leste dari empat pintu masuk yaitu, Kabupaten Malaka, Belu, TTU dan Kupang.

Pada Kamis, secara simbolik akan dilaunching ekspor perdana 30 ton sebagai pembuka ekspor komoditas pertanian  ke Timor Leste. Menurut Ani Andayani, potensi ekspor ke Timor Leste bahkan sudah sampai tahap bilateral agreement, seperti komoditas peternakan saat ini yang sudah tahap final, ternak unggas dan produk turunannya, seperti daging ayam segar, DOC dan pakan ternak.

"Nanti kita akan lihat karena besok juga akan dilakukan IB (Inseminasi Buatan) Program SIWAB, yang akan dihadiri Dirjen Peternakan, Ketut Diarmita, malam ini (Kamis) Pak Dirjen PKH sudah ada di Kabupaten Malaka, dan akan bergabung nanti," ujar Ani Andayani melalui siaran pers.

Ani juga sangat mengapresiasi masyarakat dan Pemerintah Daerah NTT dari provinsi hingga kabupaten-kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, seperti Kabupaten Malaka. Saat ini Kabupaten Malaka meluncurkan program Revolusi Pertanian Malaka (RPM), yang menetapkan delapan komoditas unggulan yakni jagung, padi, kacang hijau, bawang merah, kacang mete, kambing, itik dan ikan bandeng, dengan fokus pada One Village One Product (OVOP).

Uniknya menurut Ani Andayani, Kabupaten Malaka dengan luas 111 ribu hektare memiliki 40 persen lahan subur dan basah dengan siklus hujan tujuh hingga delapan bulan. Ini spesial untuk seluruh wilayah di Provinsi NTT, membuat Malaka berkelimpahan pangan, jagung bisa ditanam dua hingga tiga kali setahun di Kabupaten Malaka dan bawang merah, yang baru dikembangkan sudah menghasilkan 16 ton per hektare.

"Kementerian Pertanian akan mendukung terus masrakat tani di seluruh indonesia, khususnya di daerah perbatasan terutama dalam hal teknis keberlanjutan produksi untuk menjaga volume ekspor," ujar Ani Andayani, mengakhiri bincang media.