Ahad , 08 October 2017, 10:24 WIB

Petani Masuki Musim Tanam Padi Mulai Bulan Ini

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Andi Nur Aminah
Antara/Feri Purnama
Petani mulai menanam padi di sawah (ilustrasi)
Petani mulai menanam padi di sawah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musim tanam kembali padi akan dilakukan pada Oktober 2017 hingga Maret 2018 (Okmar). Hal ini didukungdengan turunnya hujan di sejumlah daerah. "Berdasarkan laporan dari sejumlah daerah, sekarang sudah memasuki musim hujan," ujar Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Suwandi melalui siaran pers, Ahad (8/10).

Artinya, kata dia, petani siap menyemai benih dan mengolah tanah untuk tanam padi pada masa ini. Dilansir dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah provinsi mulai memasuki musim hujan di Oktober-November. Misalnya, di Sumatra bagian Selatan dan Utara, Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, wilayah Maluku bagian Tengah, serta Sulawesi. Bahkan menurut informasi di Cilacap curah hujan tinggi sehingga terjadi banjir di beberapa wilayah di Cilacap (Cilacap Utara dan Cilacap Tengah). Begitu juga di Ciamis dan Pangandaran hujan turun lebat.

Kementerian Pertanian pun optimistis Indonesia akan mampu menjaga swasembada beras secara berkelanjutan. Pihaknya menargetkan luas tanam padi pada musim Okmar lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya. "Sentra padi utama antara lain di Provinsi Jatim, Jabar, Jateng, Sulsel, Lampung, Sumsel, Sumut, dan lainnya," katanya.

Sebagai informasi, luas tanam padi pada musim Okmar 2016-2017 mencapai 9,35 juta hektare. Luas tersebut, 596 ribu hektare, 6,8 persen lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 8,76 juta hektare.

Sementara, berdasarkan data luas tanam padi Okmar 2016-2017 dan April-September (Asep) 2017 surplus lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. "Kami yakin produksi padi 2017 jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya dan mampu menjaga swasembada secara berkelanjutan, tidak impor beras," tegasnya Suwandi yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan.

Ia menambahkan, hingga kini stok beras di Badan Urusan Logistik (Bulog) sebanyak 1,52 juta ton. Sehingga, stok aman untuk memenuhi kebutuhan beras tujuh bulan ke depan atau April 2018, sementara pada Februari hingga April akan panen raya padi, sehingga penyerapan gabah dipastikan meningkat.

Seperti diketahui, sejak Januari 2016 hingga kini tidak ada rekomendasi impor beras. Ketersediaan beras jauh di atas kebutuhan nasional. Sementara, kekeringan dan serangan hama yang mengganggu produksi hanya jauh di bawah batas toleransi sebesar lima persen dari luas areal tanam.


Berita Terkait