Jumat , 06 October 2017, 15:46 WIB

Adaro Kembangkan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nur Aini
Republika/Yogi Ardhi
Adaro
Adaro

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Adaro Energy Tbk mencoba mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT). Hal ini dilakukan Adaro untuk memanfaatkan lahan yang mereka miliki dengan luas 500 hingga 600 hektar.

Direktur Teknologi PT Adaro Power (anak perusahaan Adaro Energy), Adrian Lembong mengatakan saat ini Adaro Power sedang melakukan studi kelayakan untuk mengembangkan pembangkit listrik photovoltaic solar dari tenaga matahari. Studi tersebut, kata Adrian melibatkan perusahaan-perusahaan asing di bidang pembangkit yang lebih dulu sudah menerapkan pembangkit listrik tenaga surya.

"Ada dengan Kepco (Korea Electric Power Corp) dari Korea, dengan Mitsui dari Jepang, dengan Enel dari Italia. Jadi kita coba menggali pengetahuan dan pengalaman dari berbagai pemain-pemain besar dunia untuk bisa diterapkan di Indonesia untuk bidang PLTS," ujar Adrian, Jumat (6/10).

Adrian mengatakan untuk tahap awal, Adaro ikut serta dalam lelang PLTS yang ditawarkan oleh PLN. Adaro masuk pada lima proyek PLTS dengan total kapasitas 90 hingga 100 megawatt.

"Kita ikutin PLN ya. Sekarang pun PLN masih berusaha untuk memahami dampak dari PLTS terhadap jaringan," ujarnya.

CEO Adaro Energy, Gharibaldi Thohir menjelaskan bahwa Adaro tak menutup diri untuk mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan. Meski memiliki bisnis utama di bidang batubara, menurut Gharibaldi, setahap demi setahap Adaro tetap perlu melakukan bauran energi agar bisa bersaing di pasar.

"Poin saya memang, di seluruh dunia itu, di satu negara itu nggak bisa hanya rely on one source. Nggak bisa, mesti ada renewable-nya," ujar Gharibaldi saat ditemui di Mall Pacific Place, Kamis (5/10).

Gharibaldi juga menjelaskan, Adaro tetap akan menjajal semua kemajuan teknologi dan mencari aspek yang paling efisien untuk dikembangkan. Hal ini juga sejalan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan bauran energi terbarukan. "Yang penting memang kita manfaatkan apa yang ada di Indonesia. Sekarang teknologinya sudah mumpuni. Terus kita lihat mana yg paling efisien," ujar Gharibaldi.

Berita Terkait