Rabu , 06 November 2013, 12:40 WIB

Ini Dua Nama yang Berpeluang Besar Pimpin Microsoft

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Nidia Zuraya
Reuters
Microsoft. Ilustrasi.
Microsoft. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Microsoft Corp telah mengerucutkan daftar kandidat eksternal untuk mengisi jabatan CEO mereka ke depan menjadi lima orang. Beberapa nama tersisa yang bakal menggantikan posisi Steve Ballmer itu di antaranya adalah Chief Ford Motor Co, Alan Mulally, dan mantan CEO Nokia, Stephen Elop.

Sumber Reuters menyebutkan, pembuat perangkat lunak terbesar di dunia ini setidaknya juga memiliki tiga kandidat internal pada shortlist mereka. Termasuk di dalamnya mantan CEO Skype, Tony Bates—yang kini bertanggung jawab untuk pengembangan bisnis Microsoft—dan Chief Enterprise Microsoft, Satya Nadella.

Agustus lalu, Ballmer mengatakan ia akan pensiun dalam waktu 12 bulan. Microsoft lalu mulai membuka daftar dengan sekitar 40 nama untuk mencari pengganti pria kelahiran 1956 itu. Meskipun daftar tersebut sekarang sudah dipersempit, proses penyaringan ini berkemungkinan bisa memakan waktu beberapa bulan lagi. Nama-nama kandidat lainnya belum dapat diketahui secara pasti. Namun demikian, komite dari Microsoft telah mewawancarai sejumlah eksekutif dari berbagai sektor di perusahaan ini.

Microsoft sendiri menolak mengomentari nama-nama kandidat internal CEO mereka yang dibocorkan sumber Reuters tersebut. Akan tetapi, juru bicara Ford Motor Company, Jay Cooney mengatakan, saat ini Alan tetap sepenuhnya fokus pada visi mereka untuk membangun One Ford. “Kami tidak terlibat dalam spekulasi (tentang CEO Microsoft),” ujarnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, para pemegang saham di Microsoft telah mendorong dewan perusahaan ini mencari seorang ahli untuk menggantikan Ballmer. Selain Mulally, mereka juga sempat menyebut nama CEO Computer Science Corp (CSC), Mike Lawrie, untuk posisi tersebut. Selain itu, beberapa pemegang saham Microsoft juga menyarankan agar co-founder Bill Gates mundur dari perannya sebagai pemimpin perusahaan ini. Menurut mereka, Bill menjadi penghalang bagi perubahan radikal di Microsoft.

Berita Terkait