Senin , 06 April 2015, 12:17 WIB

Pembangunan Pasar Darurat Klewer Solo Bertele-tele

Rep: Edy Setiyoko/ Red: Julkifli Marbun
Antara
Kondisi Pasar Klewer usai terbakar.
Kondisi Pasar Klewer usai terbakar.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Pembangunan darurat, Pasar Klewer, Solo, Jateng, sepertinya, melalui proses bertele-tele. Soalnya, sejak kasus kebakaran pada Desember 2014, hingga proses tahapan lelang selesai, pemerintah kota (pemkot) sudah merubah Detail Engineering Design tiga kali.

Kini, baru dijadualkan, DED itu direalisasi, Senin (6/4). Realisasi ini, seiring dilaksanakan peletaklan batu pertama pembangunan pasar darurat, untuk menampung ribuan pedagang tekstil dan produk tekstil di sana.

Walikota Solo, Hadi Rudyatmo, mengungkapkan, selama ini sudah melakukan penggantian atau revisi DED pasar darurat Klewer. Revisi itu, menurutnya, sehubungan dengan besar nilai dan banyaknya sumber dana yang digunakan untuk pembangunan pasar darurat itu.

"Seperti yang kita ketahui, pasar darurat Klewer memerlukan dana sekitar Rp 23 milyar. Setelah melakukan sejumlah cara, pemkot berhasil mendapatkan bantuan dari Corporate Social Responsibility (CSR) dari sejumlah bank, perusahaan dan Pemprov Jateng. Tentunya, pemkot juga mengalokasikan dana dari APBD 2015".

Rudy, panggilan akrab walikota, tak banyak komentar ihwal betele-telenya proses awal pembangunan pasar darurat ini. Ia hanya berujar,''DED sudah kami ganti sebanyak tiga kali. Mana ada yang mau selain kita''.

Sebenarnya, kata Rudy lagi, lelang yang rencananya hanya dilakukan sekali. Ternyata, juga harus diubah. Lantaran pendanaan dari beberapa pihak, lelang pun juga harus dipisah. Lelang bantuan Pemprov Jateng dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Begitu juga dengan dana dari APBD dan CSR.

Soal penggunaan lokasi areal Alun Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta, pemkot berharap pedagang bisa ikut mengamankan. Yakni, dengan mensterilkan Alun Alun Utara per tanggal 4 April, hari ini. Momen 4 April harus sudah kosong dan Senin (6/4) akan dilakukan peletakan batu pertama.

Kepala Dinas Pengelola Pasar (DPP) Pemot Solo, Subagyo, menambahkan, pihaknya telah menentukan jadwal mengenai penandatanganan MoU antar walikota dan PB XIII, Senin (6/4). Setelah penandatanganan itu, pemkot langsung melakukan peletakan batu pertama di Alun Alun Utara.

Penandatanganan tetap dilakukan 6 April, sekaligus peletakan batu pertama. "Kami melaksanakan sesuai tahapan dan aturan yang ada," katanya.

Subagyo menekankan, pedagang diberikan waktu hingga 4 April untuk mengosongkan area seluas 3,6 hektar itu. Soalnya, pemenang lelang memerlukan waktu untuk mempersiapkan lahan itu sebelum membangun pasar darurat.

"Selama ini, kami sudah sosialisasikan hal itu ke pedagang. Alhamdulillah, pedagang bisa menerima dan memberikan respon positif. Ini artinya ada saling pengertian dari pedagang itu sendiri," tambah Subagyo.