Sabtu , 19 August 2017, 08:45 WIB

Produksi Rumput Laut NTT Capai 630 Ribu Ton

Red: Reiny Dwinanda
Edi Yusuf/Republika
Rumput Laut
Rumput Laut

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) encatat produksi sementara rumput laut di provinsi itu selama 2017 telah mencapai 630.000 ton. Jumlah tersebut berasal dari produksi 560.000 ton rumput laut basah dan 70.000 ton kering.

"Sementara ini nilai produksi rumput laut sudah mencapai sekitar Rp560 miliar lebih," kata Kepala DKP Provinsi NTT Ganef Wurgiyanto di Kupang, Sabtu.

Mantan Kepala Bidang Perikanan Tangkap itu, menyebut sejumlah daerah yang mengembangkan potensi rumput laut yang besar, seperti Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Alor, dan Flores Timur.

Daerah-daerah yang belum menonjol, terutama di Pulau Timor, seperti Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, dan Kota Kupang.

Rumput laut merupakan salah satu hasil budi daya laut yang diunggulkan di provinsi dengan luas wilayah laut mencapai 200.000 kilometer persegi itu.

"Potensi di daerah dengan wilayah laut yang luas ini memang memadai, namun tingkat pemanfaatannya masih perlu terus didorong karena belum betul-betul merata di setiap daerah," katanya.

Ganef mengatakan pengembangan rumput laut membutuhkan dukungan bibit unggul. Akan tetapi, selama ini bibit masih sulit diperoleh. Petani Nusa Tenggara Timur mengandalkan pasokan bibit rumput laut dari luar daerah, seperti Nusa Tenggara Barat dan Bali.

Sebagai salah satu solusinya, DKP dalam rencana besarnya telah membangun komunikasi dengan PT Sampoerna untuk berinvestasi mengembangkan laboratorium kultur jaringan rumput laut di provinsi itu untuk menghasilkan bibit-bibit unggul.

Ia menjelaskan pengembangannya dilakukan melalui lima klaster yang sudah ada, di antaranya klaster Kupang meliputi wilayah Pulau Timor dan Rote, klaster Sumba Timur meliputi seluruh wilayah Pulau Sumba.

Selain itu, klaster Lembata meliputi Kabupaten Alor, Kabupaten Lembata, Kabupaten Flores Timur, dan Kabupaten Sika, serta klaster Manggarai meliputi sejumlah kabupaten di bagian barat Pulau Flores dari Manggarai Barat hingga Ende.

"Setiap klaster itu masing-masing akan ditentukan satu lokasi untuk pembangunan kebun bibit rumput laut yang hasilnya dipasok ke setiap daerah," katanya.

Ia berharap, kerja sama tersebut segera diwujudkan untuk memastikan pasokan bibit-bibit rumput laut yang unggul dalam jumlah yang memadai ke setiap daerah agar produktivitas terus meningkat.

Pada 2016, produktivitas rumput laut di Provinsi "Selaksa Nusa" itu telah mencapai hingga 1,8 juta ton lebih rumput laut basah dan 229 ribu ton kering, dengan nilai produksi mencapai Rp1,84 triliun. 

Sumber : Antara