Selasa , 18 Juli 2017, 06:33 WIB

Ketimpangan Ekonomi di Yogyakarta Masih Tinggi

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Budi Raharjo
.
Pengentasan kemiskinan, tanggung jawab siapa?
Pengentasan kemiskinan, tanggung jawab siapa?

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja secara resmi mengeluarkan data terbaru per Maret 2017. Salah satu indikator yang menjadi sorotan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah masih tingginya angka gini rasio.

Kepala BPS DIY, JB Priyono mengatakan,per Maret 2017, angka gini rasio untuk DIY sebesar 0,432. "DIY memilki gini rasio tertinggi di banding provinsi lain di Indonesia,"ujar Priyono dalam konferensi pers di Kantor BPS DIY, Senin (17/7),

Hal ini sealigus menegaskan bahwa gini rasio DIY selalu di atas gini rasio nasional yang hanya berada di angka 0,393. Menurut dia, semakin tinggi nilai gini rasio maka menunjukan bahwa ketimpangan pengeluaran di suatu daerah semakin tinggi.

"Jika dibandingkan dengan gini rasio pada tahun lalu, maka tahun ini juga terjadi peningkatan, kata dia. Pasalnya, gini rasio DIY per Maret 2016 adalah sebesar 0,420. Kondisi ini sekaligus menunjukan bahwa kesenjangan pengeluaran di DIY sepanjang periode Maret tahun lalu hingga Maret 2017mengalami peningkatan.

Jika dilihat berdasar tempat tinggal, lanjutnya, ketimpangan tampak lebih jelas di daerah perkotaan. Hal itu ditunjukan dari gini rasio perkotaan yang memiliki angka 0,435 atau meningkat 0,12 poin dibanding September 2016. Sedangkan gini rasio perdesaan hanya sebesar 0,340.

Angka itu menurun tipis jika dibandingkan dengan gini rasio perdesaan pada September 2016 yang berada pada posisi 0,343.

Sementara, berdasar indikator ketimpangan yang ditetapkan Bank Dunia, pada Maret 2017, presentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah di DIY adalah sebesar 14,96 persen atau berkategori sedang. Angka ini terbilang menurun jika dibandingkan dengan kondisi pada Maret 2016 berada di posisi 15,08 persen.

"Sejalan dengan informasi yang diperoleh dari gini rasio, berdasar ukuran Bank Dunia juga menunjukan hal yang sama, yaitu di perkotaan tergolong berketimpangan sedang sementara di perdesaan tergolong berketimpangan rendah," kata Priyono.

Pasalnya, presentase pengeluaran di perkotaan pada Maret 2017 berada pada posisi 14,23 persen. Angka ini tercatat lebih rendah dibanding kondisi pada September 2016 yang berada pada posisi 15,09 persen. Sedangkan untuk perdesaan berada pada posisi 19.96 persen. Angka ini terbilang meningkat baik dibanding Maret 2016 maupun pada September 2016.


Sumber : Center